Usulan Renovasi Berkali-kali Ditolak, Begini Kondisi SDN di Banten

154 views

Kondisi SD Negeri Citasuk 2, Serang, Banten memprihatinkan.

SpiritNews.Co, Serang | Mantan Kepala Sekolah SD Citasuk 2, Kabupaten Serang, Banten, Eman Sudirman bercerita bagaimana kesedihan memimpin sekolah yang jika ada hujan dan angin diliburkan.

Permohonan renovasi pembangunan selalu gagal. Ia pun pasrah, sampai akhirnya menggunakan gudang sebagai pengganti ruangan.

Eman Sudirman, saat ini menjadi Kepala Sekolah di Citasuk 1. Lokasinya lebih baik di bawah bukit. Namun, ia cukup lama di sekolah sebelumnya dari tahun 2008.

Seingat Eman, sekolah yang jika hujan muridnya diungsikan di Citasuk 2 memang sangat kesulitan akses jalan. Baru pada tahun 2015, atas bantuan TNI Manunggal Membangun Desa, akses baru terbuka. Sebelum itu, jangankan mobil, motor pun memurutnya kesulitan.
Lalu, karena merasa bertanggung jawab pada keadaan sekolah, Eman dulu pernah meminta renovasi pada tahun 2012, 2013, dan terakhir 2015. Sayangnya, pemerintah kabupaten menurutnya selalu gagal melaksanakan perbaikan.

Katanya gagal karena kondisi jalannya rusak berat, mungkin untuk kontraktor memperhitungkan medannya,” ucapnya kepada wartawan di Padarincang, Serang, Banten, Selasa, 14 November 2017.

Yang paling parah, lanjut Eman ada di 5 lokal kelas SD Citasuk 2 yang bangunannya menyedihkan. Masing-masing untuk kelas 1 sampai 4 SD. Satu bangunan menurutnya adalah gudang yang kemudian terpaksa digunakan untuk kelas 1. Karena satu ruangan kelas plafon dan langit-langitnya sudah roboh.

“Ah, itu mah rusak semuanya,” ungkapnya.

Ia sendiri mengaku sulit membayangkan bagaimana kerusakan sekolah yang pernah ia pimpin selama hampir 9 tahun tersebut.

“Saya juga sering bertanya-tanya soal sekolah Citasuk 2,” katanya.

Guru di sekolah setempat, Nurhani bercerita bagaimana anak didiknya kesulitan bila sedang belajar. Bila langit sedang hujan dan angin mulai mengamuk, guru-guru menurutnya terpaksa membubarkan kelas untuk pulang atau diungsikan.

“Kita ini riskan, dalam cuaca angin, hujan riskan, ada angin hujan gede, kita pulangin saja daripada berbahaya kan. Daripada taruhannya nyawa,” katanya.

Alasan membubarkan, menurutnya karena guru takut dengan bangunan sekolah yang rusak. Bahkan, di ruangan kelas 1, dulunya adalah gudang, lantainya hanya ditutup terpal bekas, tanpa plafon atau langit-langit.

 

(red)