Tradisi Tulak Bala di Kota Solok, Wali Kota: Pemko Fokus Olah Lahan Kosong

54 views

SpiritNews.Co, Solok | Wali Kota Solok, Zul Elfian menghimbau petani di Kota Solok untuk meningkatkan produksi pertanian dengan tidak membiarkan lahan kosong.

Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemko) Solok saat ini fokus untuk mengaktifkan lahan kosong untuk dapat menghasilkan bagi masyarakat petani.

Hal itu disampaikan Zul Elfian saat kegiatan tradisional Tulak Bala, di Lukah Pandan, Sawah Solok, Rabu, 24 Januari 2018.

“Setiap lahan berpotensi untuk dikembangkan. Jangan biarkan kosong tidak digunakan,” kata Zul Elfian.

Dijelaskan Zul Elfian, hamparan sawah Solok yang luas dan indah, merupakan keunggulan dalam peningkatkan ekonomi petani dengan menjadikan kawasan agrowisata seperti pondok lesehan, tugu sawah solok dan kawasan mina padi.

Selain itu, kawasan Payo juga sedang digarap Pemko untuk menjadi kawasan agrowisata, karena banyak keunggulan, yakni bunga krisan, kebun kopi dan lain sebagainya, kemudian kampung durian juga sedang gencar digarap.

“Solok tidak hanya terkenal dengan berasnya, tapi juga tanaman lain seperti tanaman buah. Kemudian Dinas Pariwisata dan Dinas Pertanian diminta untuk bersinergi. Kota Solok adalah daerah tujuan, bukan hanya dilewati atau disinggahi saja,” kata Zul Elfian.

Sementara itu, untuk kegiatan Tulak Bala yang merupakan budaya warisan leluhur yang masih lestari di Kota Solok dan masih dilaksanakan setiap tahunnya. Kegiatan itu bertujuan untuk mendapatkan hasil pertanian yang melimpah serta dijauhkan dari sial atau bala.

Bala sendiri bisa berupa hama, wereng, tikus dan sebagainya yang merusak sawah, selain itu juga seperti kekeringan atau banjir. Dengan diadakanya doa tolak bala ini, petani di solok berharap dijauhkan dari bala.

Tradisi tersebut dimulai dari kawasan Medan Nan Bapaneh Lubuk Sikarah tepatnya kawasan Masjid Lubuk Sikarah, dan dihadiri puluhan kaum ibu dan bapak yang tergabung dalam kelompok petani yang mengitari sawah solok selama proses ritual tulak bala.

Tradisi Doa Tolak Bala dilakukan untuk memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT seraya memohon usaha pertanian terutama padi di sawah diberkahi serta jauh dari berbagai macam ancaman atau bala. Biasanya tradisi ini dilakukan tiap musim kesawah. Doa dan diakhiri dengan makan bersama. Tradisi itu juga diiringi dengan musik tradisional talempong pacik dengan Pupuik batang padi.

Doa Tolak Bala sendiri merupakan tradisi yang memanjatkan doa serta syukur kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Berharap ridho sehingga hasil dan usaha pertanian masyarakat sukses dan hasilnya bermanfaat untuk manusia dan seluruh alam.

“Doa Tolak Bala ini adalah kegiatan yang dilakukan setiap tahunya oleh masyarakat petani di Kota Solok, yang bertujuan agar segala yang kita lakukan mendapat ridho dari Allah dan bermanfaat hasilnya,” kata Zul Elfian.

Tradisi doa tolak bala telah ada sejak zaman dahulu, dan merupakan warisan leluhur. Seiring berkembangnya waktu dan masuknya Islam, tradisi ini tetap dilakukan yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam.

Seperi kata petuah Minang, Syara mangato adat memakai, yakni pelaksanaan adat disesuaikan dengan agama Islam.

“Inilah kekayaan budaya dan tradisi di Kota Solok, yang harus tetap dijaga,”kata Zul Elfian.

Zul Elfian juga mengapresiasi para petani solok yang masih tetap mempertahankan tradisi serta semangat dalam mengagas kegiatan yang menyangkut pada harkat bersama.

Selain itu, Kota Solok juga telah diuntungkan dengan memiliki ikon Beras sehingga menjadi tanggung jawab bersama melestarikanya.

“Pemko Solok mengapresiasi, kegiatan positif yang digagas dan dilaksanakan dengan baik, serta semangat dalam mengelola sawah solok, yang merupakan ikon kita, serta warisan leluhur kita berupa hamparan sawah yang hijau dan menguning ini,” kata Zul Elfian.

Pemko Solok juga siap mendukung dan mengembangkan sektor pertanian Kota Solok yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat khususnya para petani.

“Kalau sawah sudah memberikan hasil yang memuaskan bagi petani maka ancaman atau niat-niat alih fungsi lahan sawah produktif untuk keperluan lainnya bisa kita minimalisir. Tapi kalau hasilnya tidak memuaskan maka masyarakat akan berpikir dua kali mempertahankan sawahnya,” kata Zul Elfian.

Kota Solok beberapa tahun terakhir terus mengalami surplus beras. Namun untuk mendapatkan beras Solok asli sungguh sangat sulit di Kota asalnya.

“Saya minta dinas pertanian lebih serius mengembangkan pertanian Kota Solok mulai dari penyediaan bibit bermutu, alih teknologi agar terjadi transformasi pola bertani yang lebih baik sehingga hasilnya lebih maksimal, serta bagaimana menjaga orisinilitas beras Solok itu sendiri,“ kata Zul Elfian.

Selain itu, masih didapatkan banyak pertanian yang belum serentak, setelah ini para petani akan dibimbing oleh Dinas Pertanian yang diimbangi dengan tanam serentak.

“Semoga dengan bersama kita dapat mewujudkan keinginan kita yaitu kenaikan ekonomi masyarakat, baik itu dari sektor pertanian atau wisata yang dikembangkan di sawah solok,” kata Zul Elfian.

Tradisi Doa Tolak Bala adalah salah satu piranti mendorong wisata di Kota Solok. Terbukti telah mampu memancing perhatian berbagai pihak yang akan meningkatkan wisatawan ke Kota Solok. Siap mendukung pengembangan sektor pertanian dan juga pariwisata sawah Solok.

“DPRD, Pemko dan masyarakat petani harus saling membahu menjaga dan melestarikannya, sebab Sawah Solok merupakan kebanggaan orang Solok sejak dahulunya,” kata Zul Elfian.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Solok Yutris Can mengatakan, Pemko sangat memerlukan masukan dan saran dari petani dalam pengembangan kawasan agrowisata. Disebutkanya Sawah Solok masih membutuhkan mushola dan toilet sehingga pengunjung dari luar daerah tidak kesulitan mendapat tempat itu.

“Pengembangan kawasan agrowisata dari goro badunsanak yang dilakukan bersama sangat saya apresiasi, dan hendaknya berlanjut. Sawah Solok hendaknya nanti bernilai ekonomi dengan membuka usaha makanan bagi masyarakat dan menumbuhkan pariwisata Kota Solok,” katanya. (EYN)