Tanah Longsor Juga Mengancam Desa Lain di Ponorogo

288 views

Pencarian korban tanah longsor di Ponorogo.

SpiritNews.Co, Ponorogo | Bencana tanah longsor juga mengancam satu desa lain di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Itu setelah muncul retakan tanah di atas bukit di Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo.

Retakan tersebut kali pertama diketahui warga pada Rabu 5 April 2017 lalu. Setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. Kondisi itu berpotensi menimbulkan tanah longsor sepertihalnya yang terjadi di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Sumani membenarkan adanya peristiwa itu. Dari laporan yang diterima, retakan tanah yang terjadi di atas bukit hingga pemukiman warga itu, berukuran lebar 1 meter dengan kedalaman 3 meter.

“Benar, saya sudah menerima informasi itu. Kemarin petugas dari BPBD juga sudah melakukan mitigasi dan mengungsikan warga untuk meminimalisir adanya korban jika sewaktu-waktu terjadi longsor,” ungkap Sumani kepada awak media, Sabtu, 08 April 2017.

Menurutnya, retakan tersebut sudah terjadi tiga bulan sebelumnya. Hanya saja, tiga hari lalu tanah di desa itu kembali bergerak sehingga retakan tanah kian bertambah lebar dari yang sebelumnya hanya 30 sentimeter.

Saat ini, sebanyak 78 Kepala Keluarga (KK) atau 269 jiwa sudah diungsikan petugas BPBD Ponorogo ke lokasi yang aman. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika terjadi longsor akibat retakan tanah itu seperti halnya yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung.

“Ada 4 titik lokasi pengungsian. Saat ini tenda-tenda pengungsi dan kebutuhan logistik juga sudah kita siapkan,” jelas Sumani saat ditemui di lokasi bencana di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Sementara itu, Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni menyatakan, jika pihaknya juga sudah meminta beberapa peneliti untuk melakukan pengkajian terkait dengan retakan yang muncul di Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo.

“Tim peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan peneliti UGM (Universitas Gajah Mada) sudah kita minta untuk melakukan kajian. Sampai saat ini kami masih menunggu hasilnya,” ungkap Ipong.

Menurutnya, butuh waktu sekitar satu minggu bagi tim peneliti PVMBG untuk melakukan kajian terkait dengan tingkat kerawanan retakan tanah yang muncul di desa yang terletak di bagian ujung barat Kabupaten Ponorogo itu. Dari hasil itulah, selanjutnya akan dilakukan penanganan lebih lanjut.

“Jika memang hasilnya tidak aman untuk ditempati dan harus dilakukan relokasi, ya itu kita lakukan. Tentunya akan kita sinkronkan dengan regulasinya seperti apa,” tandasnya. (red)