Sosok Pengusaha Muda di Kota Solok, Pernah Jadi Anak Punk dan Diusir dari Rumah

126 views

SpiritNews.Co, Solok | Kehidupan anak punk (jalanan-red) identik dengan gaya yang berantakan. Mulai dari cara berpakaian yang berantakan, rambut gondrong atau mohawk, pergaulan yang bebas serta kekerasan.

Itulah sepintas pandangan masyarakat terhadap mereka yang terperangkap dalam gaya hidup tersebut. Sementara mereka yang masuk ke dalam dunia underground itu tidak memungkiri bahwa pandangan masyarakat itu benar adanya. Begitu pun Julitu Hendri yang merupakan mantan anak jalanan.

Menurut Julitu, gaya hidup tersebut merupakan sebuah ekspresi mereka dalam hal kebebasan. Kini Julitu telah membuka usahanya sendiri yakni Sablon dan meninggalkan kehidupan jalanan yang digelutinya dulu.

Meskipun begitu, Julitu tidak serta-merta meninggalkan teman-temanya sesama punk/rock, Julitu tetap membimbing kawannya yang lain untuk mengikuti jejak langkahnya.

Julitu membuka usaha sablon di rumahnya di Tanjung Paku, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, Sumatera Barat (Sumbar).

Pria 32 tahun tersebut menceritakan bahwa dia menjalani gaya hidup punk selama 11 tahun, sejak 1998 hingga 2011.

Menurutnya, punk terbagi dua ada yang marjinal dan rock. Marjinal adalah mereka yang sering ditemui di jalanan, fans musik punk yang hidupnya bebas dan tidak mau diatur.

Sementara yang rock kebanyakan adalah anak band yang mengisi waktu luang dengan mengikuti event-event tertentu.

“Marjinal itu yang biasa kita temui dipinggir jalan, yang kesanya seperti gembel. Mereka adalah simpatisan atau pun fans musik rock atau metal tertentu, sehingga jika ada festival mereka hadir berbondong-bondong. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka mengamen. Kalau punk rock itu yang anak-anak band. Mereka kebanyakan musisi dan memiliki jiwa wirausaha untuk membiaya kehidupan mereka kreatif seperti usaha sablon, aksesoris ataupun berdagang,” jelas Julitu.

Dijelaskan Julitu, bahwa punk marjinal yang terbiasa mengamen di jalan itu, menggunakan uang hasil mengamenya kemungkinan besar untuk beli makan, bahkan untuk kehidupan minum-minuman keras, rokok atau narkotik.

Sementara punk rock menggunakan uang hasil bekerja mereka untuk keluaran di bidang musik atau seni lainnya.

“Kalau untuk yang punk marjinal, makan adalah urusan ketiga, yang penting mabuk dulu,” kata Julitu.

Meskipun begitu, ada pula sisi positif kehidupan punk, yakni solidaritas dan kebersamaan mereka yang kuat. Tapi sisi negatifnya jauh lebih banyak, seperti penampilan yang amburadul, bau, dan tampang yang seram sehingga sering menggangu atau menakutkan bagi orang lain, yang paling parah mereka terjerumus kedalam narkotika, seks bebas serta minuman keras, yang biasanya disebabkan karena terinspirasi dengan idola/artis mereka yang melakukan hal yang sesama.

Untuk kehidupanya sendiri Julitu menceritakan bahwa pertama kali mengenal punk ketika kelas satu SMP tahun 1998. Ketika pertama kali mendengar aliran musik punk, Julitu bersama temanya yang lain membentuk sebuah band.

“Sejak saat itu saya rutin manggung. Ketika mulai memasuki SMK, saya menjadi lebih mengenal musik punk. Mulanya saya kira itu musik saja, ternyata punk itu bukan hanya musik melainkan sebuah kultur, budaya,” kata Julitu.

Setelah lulus SMK pada tahun 2000, Julitu tidak menyambungkan kuliah, karena alasan biaya. Julitu tidak ingin membebani orang tuanya, dan terjun langsung ke dunia punk,

Julitu kemudian merantau ke Jambi, Riau, Bengkulu dan Lampung. Julitu juga tidak lagi diterima oleh keluarganya karena gaya hidup punk tersebut, mulai dari rambut yang mulai gondrong hingga badan yang telah penuh dengan tato.

Setelah selama 11 lebih menjalani kehidupan punk, Julitu menabung dari hasil mengamen di jalanan, anak dari pasangan Miswar dan Murni ini.

Akhirnya sedikit demi sedikit mulai mencoba berhenti dari dunia bebas tersebut. Dengan modal awal Rp.200 ribu, pada tahun 2006, Julitu membuka usaha sablon. Usaha itu digelutinya untuk menepis anggapan masyarakat yang selalu miring terhadapnya.

Dijelaskan Julitu, tidak mudah baginya agar dapat diterima kembali oleh keluarganya. Butuh perjuangan selama lima tahun. Ayah Julitu yang hanya seorang petani tidak menerima pilihan hidup Julitu yang terjun bebas ke dunia punk sejak tamat SMK.

Tapi itu dulu, kini Julitu telah kembali dan berusaha menata hidupnya, dengan harapan anak-anaknya tidak mengikuti langkahnya dulu.

“Anak saya harus sukses. Jangan hidup seperti saya dulu,” kata Julitu.

Untuk ke depanya Julitu berharap kehidupanya menjadi lebih baik. Julitu belakangan juga mulai menghilangkan tato yang ada ditubuhnya. Mulai melaksanakan sholat di Masjid dan mushala di tempat tinggalnya.

“Saya juga orang yang beragama, biarlah orang lain berkata apa,” kata Julitu. (eyn)