Selama 2017, Kekerasan ke Wartawan Terbesar Kedua dalam 10 Tahun Terakhir

120 views

Ilustrasi.

SpiritNews.Co, Jakarta | Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat, sedikitnya ada 60 kasus kekerasan terhadap jurnalis di 2017. Catatan kekerasan ini merupakan terbanyak kedua selama 10 tahun terakhir.

“Masih terbanyak kekerasan fisik. Bagaimana publik atau pejabat menyelesaikan masalah dengan wartawan itu dengan main kayu. Kekerasan fisik ini polanya berulang dalam waktu 3 sampai 5 tahun,” kata Ketua Aji Abdul Manan saat diskusi bertajuk ‘Catatan Akhir Tahun AJI 2017’ di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 27 Desember 2017.

Manan mengungkapakan, kekerasan tersebut didominasi oleh penyelenggara negara dan warga sipil.

“Pelaku terbanyaknya adalah warga sipil dan kedua adalah polisi. Ini sisi ironisnya, warga dan polisi seperti bersaing sebagai pelaku kekerasan terhadap wartawan karena 2 atau 3 tahun sebelumnya polanya sama,” terangnya.

Ada kemungkinan, kata Manan, kekerasan terhadap wartawan di tahun mendatang berasal dari kelompok intoleran, seperti persekusi dan intimidasi.

“Menurut saya ini warning buat kita organisasi seperti AJI dan wartawan untuk lebih aware terhadap bahaya dari kelompok intoleran ini. Ini mungkin akan jadi salah satu yang banyak mewarnai di tahun-tahun mendatang,” kata dia memprediksi.

Selain itu, regulasi soal pers masih punya celah untuk memenjarakan wartawan.

“Misalnya di UU KUHP, Pornografi, termasuk UU Penyiaran dan UU ITE. UU ITE kami highlight khusus karena memberi peluang pemerintah memblokir situs tanpa melalui pengadilan. Itu berbahaya karena memberi cek kosong pada pemerintah untuk melakukan tindakan yang tidak demokratis,” ungkapnya.

Selain itu, Manan juga menyoroti etika dan profesionalisme wartawan. Jumlah aduan kode berkaitan dengan ini cukup tinggi.

“Yang sering diadukan itu beritanya tidak berimbang, cenderung menghakimi, beritanya keliru, mulai minor sampai substansial,” terangnya.

 

(red)