Satu Tahun Teka-teki Kasus Penyiraman Novel Baswedan

41 views

Novel Baswedan.

SpiritNews.Co, Jakarta | Satu tahun yang lalu tepatnya, Selasa 11 April 2017, penyidik KPK Novel Baswedan alami musibah yang menyita banyak perhatian pejabat hingga rakyat Indonesia.

Seperti dilansir dari Okezone, Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal saat pulang menunaikan salat subuh di masjid kawasan Kelapa Gading tak jauh dari rumahnya.

Orang tak dikenal yang menyiramkan air keras ke bagian muka penyidik senior KPK yang dikenal tegas dan berhasil ungkap beberapa kasus pejabat penting di negara ini, harus pasrah karena air keras tersebut mengenai bagian matanya.

Akibat luka bakar dibagian mata, Novel mendapat perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Kerusakan di bagian wajah baik pada mata dan dahi, tentu menimbulkan banyak spekulasi terhadap kasus besar yang tengah ditangani Novel.

Bahkan Ketua KPK Agus Rahajo pernah menyebut, penyiraman penyidik seniornya itu ada hubungan dengan kasus e-KTP yang tengah ditanganinya. Kala itu, Novel mendapat tugas membongkar skandal korupsi pengadaan e-KTP yang merugikan negara sebesar Rp2,3 triliun dan melibatkan pejabat tinggi negara.

Berjalannya hari dari aksi penyiraman air keras tersebut, Novel Baswedan akhirnya mendapat fasilitas perawatan di Singapura yang seluruh biayanya ditanggung negara.

Meski mendapat fasilitas tersebut, setelah beberapa bulan dirawat, penyidik yang dikenal keras ini sempat menggegerkan kembali dengan statemennya yang diyakininya bahwa kasusnya ini tak akan pernah terungkap jika tak dibutuhkan keberanian besar.

Setali tiga uang dengan pernyataan Novel Baswedan, enam bulan berjalan dari aksi penyiraman tersebut, belum sedikitpun secercah harapan bisa terungkap terhadap perburuan pelaku penyiramana air keras yang dialami Novel Baswedan.

Bahkan dalam kurun waktu tersebut, membuat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dahnil Anzar angkat bicara,

“Enam bulan kasus penyiraman air keras terhadap Novel gelap gulita penyelesaiannya,” tulis Dahnil melalui akun Twitter-nya, @Dahnilanzar.

Pendapat senada dinyatakan Indonesia Corruption Watch (ICW). “Hari ini, tepat #6Bulan Novel diserang menggunakan air keras. Tapi, pelakunya belum ditemukan. Mari melawan impunitas dan menolak lupa,” tulis akun Twitter@sahabatICW.

Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang seusai menunaikan Salat Subuh di masjid di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hingga saat ini polisi masih menyelidiki kasus tersebut.

Satu Tahun Kasus Novel Baswedan

Hari ini genap satu tahun kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Tapi, Polri tidak mampu mengungkapkan siapa pelaku dan dalang di balik teror menimpa Novel.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Muhammad Iqbal meminta masyarakat menunggu saja proses pengusutan yang dilakukan polisi. Dia mengklaim tidak ada kesulitan dalam mengungkap kasus Novel.

“Tidak ada kesulitan. Polisi tidak pernah mengungkap kesulitan. Tunggu saja,” kata Iqbal di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu, 11 April 2018.

Iqbal mengatakan selama 365 hari kasus Novel berjalan, polisi sudah memeriksa 80 saksi.

“Pada awal kejadian sudah menunjukan signifikan, lebih dari 80 saksi sudah periksa, petunjuk sudah kita dapat. Tim sudah bergerak, sketsa wajah sudah dibentuk,” ujarnya.

“Kami sudah jemput bola informasi, kami sudah meminta KPK untuk menurunkan tim. Kami tetap penyelidikan berupaya keras untuk ungkap kasus ini. Artinya PMJ (Polda Metro Jaya) langkah awal sudah melangkah dari titik satu lebih, tambah beberapa saksi untuk keterangan,” sambung dia.

Beberapa pihak menuding Polri tak serius mengungkap kasus Novel karena ditenggarai ada jenderal yang terlibat dalam teror tersebut. Tapi, Iqbal menyangkal isu tersebut.

“Jenderal mana? Buka, mana?” kata dia saat ditanya wartawan.

Iqbal meminta pihak yang menuding ada jenderal di balik kasus Novel agar membuka saja identitas jenderal tersebut. “Jika dibuka itu sangat berharga dan kita akan ucapkan terima kasih,” tukasnya.

Choirul Anam, anggota Tim Pemantau Kasus Teror Novel Baswedan, mengatakan pihaknya sudah banyak mendapat informasi hasil investigasi atau penyelidikan kasus yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.

Komisioner Komnas HAM tersebut melanjutkan, tetapi ada beberapa informasi yang harus diklarifikasi kepada sejumlah pihaknya. Tim pemantau, kata Anam, terkendala melakukan konfirmasi itu.

“Semua proses kami jalankan, berbagai informasi kami telah dapatkan, banyak yang didapat. Namun memang, ada beberapa yang belum dapat diklarifikasi,” ujar Anam saat dikonfirmasi Okezone, Rabu, 11 April 2018.

Saat ini, jelas dia, Tim Pemantau Kasus Teror Novel Baswedan bentukan Komnas HAM masih melakukan proses lebih lanjut, yakni secara prosedur dan sudah masuk ke substansi permasalah‎an.

“Tahapan proses kami pelajari, baik prosedur maupun substansi kasus,” terang Anam. (okz/red)