Potret Pilu SMAN di Serang, Bangunan Sekolah Hancur Lebur dan Nasib Siswa Terbengkalai

83 views

SpiritNews.Co, Serang | Puluhan siswa SMA Negeri 1 Padarincang yang berada di Jalan Palima Cinangka (Palka), atau lebih tepatnya di Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, terpaksa harus rela belajar di mushola, akibat ruang kelas sekolah mereka rusak parah.

Berdasarkan dari hasil pantauan awak media di lokasi, tampak dua ruang kelas terlihat porak poranda hanya tinggal rangka bangunan tanpa atapnya saja yang tersisa. Dua ruang kelas tersebut yakni ruang Kelas XI IPS-1 dan IPS-2.

Kondisi bangunan dua ruang kelas tersebut memang tampak sangat memprihatinkan. Kondisi kelas hanya tinggal tembok dengan beberapa tiangnya saja. Tak ada atap dan jendela. Kayunya juga terlihat sudah lapuk akibat termakan usia. Bangku dan meja lapuk juga ikut tertumpuk tidak teratur di bagian pojok ruang kelas tersebut.

Dua lokal kelas itu belum lagi dibangun sejak hancur tertimpa batang besar pohon asam setahun yang lalu.

“Tidak ada hujan, tidak ada angin langsung tiba-tiba saja menimpa genting sampai hancur dua ruang kelas,” ujar Andriato yang tak lain merupakan penjaga sekolah.

Andrianto juga menceritakan, kejadian ambruknya pohon dan menimpa dua ruang kelas tersebut terjadi pada hari Senin di awal bulan Januari 2017 lalu. Siswa baru saja mengikuti upacara bendera. Sebagian besar siswa tengah berada di kantin sekolah sekira pukul 08.30 WIB. Ada lima orang siswa lain yang tengah asik bermain di dalam kelas XI IPS-2.

Rangka atap yang terbuat dari baja ringan saat itu tak kuat untuk menahan beban batang pohon dan genteng yang terbuat dari tanah liat. Ketika batang pohon itu patah dan langsung menimpa atap sekolah, kelima siswa tengah duduk di belakang ruang.

“Alhamdulillah kelima siswa tersebut selamat karena posisinya di belakang. Kalau saja saat itu posisinya ada di tengah, mungkin mereka juga ikut tertimpa atap sekolah,” ujarnya.

Andrianto juga menambahkan, sejak peristiwa tersebut, dua kelas oun kemudian dipindahkan ke mushola dan ruang laboratorium. Siswa kelas XI IPS-2 menempati laboratorium dan XI IPS-1 terpaksa harus rela belajar di mushola dengan menghampar di lantai.

Ada 36 siswa yang kini belajar di mushola Baitul Makmur. Di ruang berukuran 8 X 8 meter persegi tersebut mereka pun sehari-harinya menghabiskan waktu belajar dari mulai pukul 07.15 hingga 16.00 WIB.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Padarincang Kartono yang ditemui di rumahnya mengatakan, saat ini dirinya tidak mampu untuk berbuat banyak. Semula ia berharap dengan beralih kewenangan SMA/SMK ke Pemerintah Provinsi Banten, sekolahnya dapat cepat dibangun.

Namun, setelah peralihan tersebut banyak kendala. Mulai dari birokrasi yang dinilai berbelit-belit, pola bantuannya yang juga kurang resposif, hingga keterlambatan berbagai tunjangan guru. Tak jarang ia juga mendengar keluhan siswanya yang belajar di mushola tersebut.

“Karena belajarnya di lantai sambil tengkurap, siswa sering mengeluh sakit perut. Mungkin karena dingin dan masuk angin mas,” kata Kartono.

Ruang yang dijadikan kelas darurat itu hanya terdapat satu papan tulis saja yang ditempelkan ke dinding pada bagian sebelah kiri mushola, tanpa kursi, tanpa meja.

Nasib yang lumayan baik bagi siswa yang dipindahkan ke ruang laboratrium. Di ruang tersebut siswa dapat belajar dengan menggunakan kursi dan meja yang sudah ada.

Atap bangunan sekolah yang saat ini sudah ambruk tersebut, merupakan bantuan dari PT Krakatau Steel (Persero) pada 5 Agustus 2004 silam.

Kartono juga mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Provinsi Banten. Sebelumnya pihak Dinas Pendidikan Provinsi Banten menjanjikan akan segera membangun ruang kelas baru (RKB) pada APBD Perubahan 2017. Namun harapannya pupus katika mendekati akhir Desember 2017 tak ada tanda-tanda akan dibangun.

“Malah ada pemberitahuan dianggarkan di tahun 2018. Kalau begitu paling Juni baru bisa dibangun. Cuaca belakangan ini kan memang sedang kurang bagus. Belajar sudah tidak kondusif. Kasihan para siswa yang belajar di mushola. Apalagi kalau tahun ajaran baru siswa yang baru juga harus belajar di sana,” kata dia. (Anas)