Polres Solok Kota Bersama Pemko Solok Gelar Seminar Literasi Digital dan Media Sosial

44 views

SpiritNews.Co, Solok | Banyak informasi hoax dan menjadi viral di media sosial kerap memicu keributan hingga merembet menjadi kerusuhan fisik, tidak hanya menghabiskan energi, waktu, tenaga dan pikiran namun juga berpotensi menggangu keamanan dan ketertiban pada level daerah dan nasional.

Untuk itu, demi menciptakan generasi muda Kota Solok yang anti dengan Hoax, Polres Solok Kota bersama Pemko Solok menggelar Seminar Literasi Digital dan Media Sosial di Aula Polres Solok Kota, Selasa, 10 April 2018.

Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Solok Zul Elfian yang diwakili Asisten II Jefrizal, Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan, Forkompinda Kota Solok, Ketua LKAAM, KAN serta Bundo Kanduang Kota Solok, Dinas Kominfo, Organisasi Kepemudaan, BEM, Osis SMA/SMK seKota Solok, serta peserta seminar lainnya.

Wali Kota Solok Zul Elfian dalam pembukanya yang disampaikan Jefrizal mengatakan, ancaman terhadap penyebar berita bohong dapat dihukum maksimal 6 tahun penjara serta denda Rp.1 milyar sesuai dengan yang tertuan pada Undang-Undang ITE Pasal 28 ayat 1.

“Sebagai pengguna social media maka kita diwajibkan untuk jeli dan hati-hati dalam memilah informasi terutama yang akan kita bagikan kepada pihak lain,” katanya.

Kemudian narasumber dalam pemaparannya, yaitu Ustad Yon Abu Zaki menjelaskan, dalam surat Al Hujarat ayat 1 tentang Islam menangkal berita-berita bohong. Iman lebih tinggi dari Islam, orang beriman tidak akan mungkin berbuat maksiat terutama menyebar hoax. Orang beriman mampu mengendalikan diri dari kabar bohong atau hoax), sikap orang beriman dalam menyikapi informasi hoax “tawakuf” (diam) tidak berkomentar sampai terbukti kebenarannya.

“Boleh mengkritik tapi dengan santun, kuncinya “Tabayun” (teliti kebenarannya) karena dosa besar yang paling besar adalah berita bohong dan kesaksian palsu. Klarifikasi terhadap suatu berita adalah sebuah bentuk kesempurnaan iman,” katanya.

Selanjutnya Beny Junaidi dari Dinas Kominfo mengatakan, Internet, Media Sosial dan Teknologi Informasi mengalami peningkatan jumlah pengguna yang cukup signifikan dari tahun lalu.

“Media-media tersebut banyak digunakan dalam penyebaran hoax serta upaya pencegahannya, mari kita sama-sama tangkal hoax dan unduh sesuatu yang sehat serta unggah yang bermanfaat,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan mengatakan, untuk tidak mudah percaya dengan yang diposting orang lain di internet, namun cari kebenaran dari informasi tersebut secara berulang-ulang, untuk membuktikan postingan baik itu berupa gambar, berita, nama, cerita, tersebut benar atau hoax.

Dijelaskan Kapolres, cara termudah adalah dengan menelusuri nama/foto atau file tertentu menggunakan google, serta cek berita-berita tersebut melalui media yang resmi. Kemudian mengklarifikasi kebenaran suatu informasi, melihat keabsahanya sebelum membagikanya melalui medsos, selain itu ada cara yang paling mudah yakni bergabung dengan group atau komunitas yang melawan hoax, salah satunya adalah Group Solok Anti Hoax, dengan bergabung ke komunitas tersebut, masyarakat akan dengan mudah saling membantu menemukan keabsahan suatu informasi.

Selain itu, kata Kapolres, kebanyakan dari korban berita hoax justru orang-orang yang terpelajar namun malas membaca, dan langsung share tanpa mengklarifikasi dahulu kakuratan sebuah informasi.

“Kebanyakan yang jadi korban adalah orang-orang cerdas namun malas membaca. Asal ambil dan share tanpa melihat dulu keakuratanya, sehingga jari menjadi lebih cepat ketimbang otak, padahal termasuk kalangan cerdas. Untuk itu, Polres Solok Kota bersama Pemko Solok sangat serius menyikapi Hoax ini demi tercipta ketentraman dan ketertiban masyarakat,” kata Kapolres. (eyn)