Pilpres 2019, Regulasi Dinilai Jadi Penyebab Tak Adanya Calon Alternatif

108 views

Lembaga Survei KedaKopi menggelar diskusi bertajuk :Dari Seberang Istana 2019, Selain Jokowi dan Prabowo, Siapa Berani” di kawasan Jalan Juanda, Gambir, Jakarta Pusat.

SpiritNews.Co, Jakarta | Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini mengatakan, adanya ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) sebanyak 20% dalam UU Pemilu akan menghambat munculnya calon alternatif yang maju dalam Pilpres 2019.

Dalam beberapa hasil lembaga survei, nama Joko Widodo dan Prabowo Subianto kerap bersaing di dua posisi teratas.

“Pemilu 2019 ini serentak, tapi diberlakukan pada ambang batas pencalonan kekuatan politik masa lalu,” ujar Titi dalam diskusi yang digelar lembaga survei KedaiKopi bertajuk “Dari Seberang Istana 2019, Selain Jokowi dan Prabowo, Siapa Berani?” di Jalan Juanda, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Januari 2018.

Padahal, lanjut Titi, untuk pertama kalinya pemilu digelar secara serentak pada 2019. Menurutnya, seharusnya hak para kontestan pemilu tidaklah boleh dieliminasi sehingga dapat memunculkan calon alternatif lainnya.

“Calon alternatif lebih banyak maka tingkat partisipasi suara pemilih lebih terwadahi,” tutur Titi.

Sementara itu, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, menilai munculnya calon alternatif di Pemilu 2019 seperti mimpi di siang bolong. Sebab ia memandang, bila regulasi dibuka selebar-lebarnya bagi siapa warga negara yang mau mencalonkan diri menjadi capres, diyakini akan memunculkan banyak capres alternatif.

“Kalau sudah dibuka kerannya, saya yakin banyak nyalonin. Oleh sebab itu, enggak ada parpol yang mengusung ideologi demokratis. Sudah seperti korporasi semua. Tidak ada calon alternatif kalau regulasinya seperti ini,” ucap Dahnil.

Selain itu, Dahnil menilai saat ini ‎parpol tidak mampu memberikan menu pilihan yang bervariasi terhadap masyarakat, namun malah memangkas calon melalui regulasi dan aturan.

“Bukan berani atau enggak berani (memunculkan calon alternatif) itu tadi aturannya. Praktiknya dipotong di hulu. Praktik ini enggak sehat buat demokrasi kita,” jelas Dahnil.

Dalam diskusi tersebut, lembaga survei KedaiKopi juga menampilkan nama yang bisa muncul sebagai capres alternatif. Nama-nama tersebut dari Abraham Samad, Agus Harimurti Yudhoyono, Airlangga Hartarto, Anies Baswedan, Budi Gunawan, Chairul Tanjung, Gatot Nurmantyo, Hary Tanoesoedibjo, Lukman Hakim Saifuddin, Muhaimin Iskandar, Puan Maharani, Rizal Ramli, Sri Mulyani, Tito Karnavian, dan TGB Zainul Majdi. (red)