Pilpres 2019, Demokrat Optimis Dapat Membentuk Poros Ketiga

43 views

Sekjen Demokrat, Hinca.

SpiritNews.Co, Jakarta | Keyakinan untuk membentuk poros baru dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 masih terbuka lebar. Meski belakangan ada rencana Partai Amanat Nasional (PAN) untuk menyatakan dukungan terhadap Joko Widodo, namun rencana itu nampaknya di tutup oleh Partai Demokrat yang menginginkan bentuk poros ketiga.

Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan mengungkapkan, saat ini pihaknya terus melakukan komunikasi kepada partai yang bersangkutan dengan poros ketiga. Ia juga mengaku optimis dapat membentuk poros tersebut.

“Masih, masih, karena dialog dengan PAN kami masih berlanjut. Kan makin banyak pilihannya makin bagus,” kata Hinca di gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 28 Maret 2018.

Menurut dia, hal ini hanya tinggal menunggu waktu saja untuk membentuk poros ketiga. Komunikasi pun dilakukan di level sekjen telah selesai dilaksanakan.

“Komunikasi kami di level sekjen sudah berjalan, kemarin 9 Maret terakhir. Akhir-akhir ini kami melakukan dialog dari tiga partai yang bersangkutan. Ini soal waktu saja, Pak SBY lagi keliling Jawa Barat, sehingga kami tetap menjalin komunikasi terus,” terangnya seperti dilansir dari Okezone.

Seperti diketahui, Partai Demokrat, PKB dan PAN sempat menggelar pertemuan. Pertemuan itu membahas sejumlah hal terkait pemilu 2019 nanti, seperti kemungkinan adanya membuat poros ketiga atau poros tengah.

Poros ini diprediksi akan berada di luar partai yang sudah mengusung Jokowi dan Prabowo sebagai calon presiden.

Poros baru atau poros ketiga sendiri merupakan alternatif di Pilpres 2019, yang diduga akan diisi dua kekuatan lama, yakni poros Joko Widodo (Jokowi) dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

Sedangkan menurut pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, poros baru ini bakal sulit terwujud karena kecilnya peluang bersaing dengan dua kekuatan lama. Meskipun baginya, kemunculan poros ketiga ini akan membawa angin segar bagi demokrasi di Indonesia. (okz/red)