Peringatan 500 Hari Penyerangan Novel: “Berantas Korupsi adalah Perjuangan Hak Asasi Manusia”

5 views

Jakarta | Perjuangan memberantas korupsi sama dengan memperjuangkan hak asasi manusia. Tanpa ada perjuangan memberantas korupsi, masyarakat semakin sulit menikmati hak asasinya.

Demikian diungkapkan oleh Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Wadah Pegawai KPK dalam rangka 500 hari penyerangan penyidik KPK, Novel Baswedan di Jakarta (1/11).

“Penyerangan terhadap Novel berarti penyerangan terhadap kita semua, terhadap Indonesia,” kata Usman. Menurutnya, kasus Novel ini berpotensi untuk dibawa ke ranah internasional. Tekanan internasional, kata dia, bisa membantu mempercepat respon pemerintah untuk memproses sebuah kasus.

Diskusi dengan tema “#500HaridibiarkanButa: Urgensi Perlindungan Pegiat Keadilan”, mengundang ratusan aktivis dari berbagai komunitas, organisasi maupun lembaga swadaya masyarakat. Diskusi ini tidak saja mendorong pemerintah menuntaskan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan, tetapi juga mendorong pemerintah mengungkap kebenaran atas pembunuhan Munir Said Thalib, aktivis Hak Asasi Manusia yang dibunuh 7 September 2004.

Penyidik KPK Novel Baswedan hadir sebagai pembicara bersama Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, dan Pegiat HAM sekaligus istri almarhum Munir, Suciwati. Diskusi dibuka Wakil Ketua KPK Alexander Marwata yang menyampaikan rasa prihatin dengan penyerangan yang menimpa para pejuang keadilan seperti Novel dan Munir. “Butuh perjuangan yang luar biasa untuk menegakan keadilan dan kejujuran,” katanya.

Menurut Alex, KPK telah melakukan banyak upaya untuk melindungi pegawai KPK dalam menjalankan tugasnya. Alex menghimbau agar terus optimis dalam upaya pemberantasan korupsi dan menegakan keadilan. “Kita tidak boleh putus asa dan terus berjuang untuk melawan korupsi.”

Penyidik KPK Novel Baswedan berbagi kisahnya disiram air keras oleh oknum yang hingga hari ini belum ditemukan. Ia berharap penyerangan atau teror yang menimpa dirinya dan pegawai KPK lainnya bisa segera diungkap. “Ini tidak boleh dianggap hal biasa. Saya ingin ini dibuka sehingga pelaku akan takut untuk berbuat lagi dan ada rasa perlindungan psikis yang diterima pegawai KPK” ujar Novel.

Menyatakan ikhlas dengan kejadian yang telah menimpanya, Novel mengatakan tidak menyimpan dendam karena tidak ingin semangat berjuangnya pupus hanya karena teror yang menimpanya. “Saya akan terus berjuang. Saya akan menggunakan sisa waktu saya untuk terus berjuang” tutup Novel.

Suciwati yang Tak Putus Berjuang.

Istri almarhum Munir, Suciwati juga tak putus berjuang mencari keadilan. Ia tidak ingin hal yang menimpa suaminya turut dirasakan oleh orang lain. “Hingga hari ini saya terus berbicara bukan karena Munir suami saya, tapi karena saya tidak mau ada yang mengalami hal yang sama” ujar Suci.

Suci membagikan sejarah perjuangannya mencari keadilan selama 14 tahun untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan Munir. Ia tidak ingin, generasi muda kerap akan dipimpin oleh orang-orang yang korup, pembunuh, atau penjahat. “Memang melelahkan, tapi inilah cara kita mencintai Indonesia. Saya tidak mau generasi muda mengamini para penjahat. Maka penting untuk terus bersuara soal kebenaran dan keadilan” tambahnya.

Peringatan 500 hari penyerangan Novel Baswedan diakhiri aksi solidaritas Koalisi Masyarakat Sipil yang memberikan dukungan simbolik 175 Ribu masyarakat yang telah menandatangani petisi #tiktokNovel untuk mendorong pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel. [red/Hum/KPK]