Pemko Solok Gelar Festival Silek Tuo

184 views

SpiritNews.Co, Solok | Pemerintah Kota (Pemko) Solok melalui Dinas Pariwisata serta OPD terkait lainnya, bekerjasama dengan LKAAM, KAN, Bundo Kanduang dan DPRD Kota Solok, menyelenggarakan Festival Silek Tuo II dengan tema Basilmuh.

Festival Silek Tuo di Sawah Solok ini digelar untuk mempertahankan tradisi yang menjadi warisan budaya bangsa, dan dalam rangka memperingati HUT Kota Solok yang ke-47, silat dengan luluh/lumpur ini kembali dilestarikan dengan mengadakan.

Basilumuh ini diikuti lebih dari 50 Perguruan/Sasaran Silek Tuo Se-Sumbar, dilaksanakan selama dua hari Sabtu dan Minggu, 25-26 November 2017.

Pada hari pertama dilakukan pembukaan dan penampilan Silek Tuo di Halaman Balai Kota Solok. Kemudian dihari berikutnya, Bararak dari Masjid Lubuk Sikarah, Pasar Raya Solok dan Sawah Solok, serta penampilan Silek di Sawah Solok.

Silek dalam Sawah ini adalah sesuatu yang unik, dilakukan dengan turun ke sawah, para pesilat melakukan aksinya di atas lumpur yang ditutupi tumpukan jerami. Silek dapat bertahan karena diwariskan secara turun-temurun, sebagai sebuah seni, pertahanan diri dan menjadi warisan, sebuah harta kekayaan milik bangsa.

Ketua LKAAM Kota Solok, Rusli Khatib Sulaiman mengatakan, Silek bukan hanya sebatas gerakan atau jurus membela diri, tetapi ada falsafah sebuah ilmu yang menjadikan para pesilat harus menemukan keseimbangan, karena basilek adalah silaturahmi, mencari kawan dan berujung dengan lebih dekatnya para pesilek dengan Allah yang Maha Kuasa.

“Makna Tauhid ada dalam silek, sehingga silek bukan hanya gerakan, tapi hati juga harus dijaga. Para pendeka silek harus mampu menjadikan ilmu bela diri silat sebagai sebuah jalan dalam berdakwah, karena basilek penuh dengan ajaran Islam,” kata Rusli.

Sementara, Ketua KAN Kota Solok, Yanuardi Dt Tanali mengatakan, Silek berasal dari batin, seorang pesilek harus mampu mengkontrol dirinya dari hal-hal yang tidak baik, membela kebenaran, mengamalkan kebaikan.

Silek Tuo harus dilestarikan dan dipertahankan, dengan sedemikan banyak manfaat yang terkandung dalam silek, Silek sangat dibutuhkan terutama untuk generasi muda kini, dengan basilek maka generasi muda akan memiliki pegangan, dan terbentengi dari pengaruh buruk pergaulan.

“Silek terbukti dapat bertahan melintasi ruang dan waktu. Kita tentu berkewajiban melestarikan silek, karena dengan silek segala permasalahan di zaman sekarang dapat teratasi, dengan silek maka kita bisa membentengi generasi muda kita dari pengaruh yang tidak baik, dengan silek pula kita bangsa Indonesia dapat meraih kemerdekaan. Maka dari itu, Silek harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda kita, sehingga lahirlah generasi-generasi penerus bangsa yang kuat mental dan fisik dengan basilek,” katanya.

Kegiatan Basilmuh tersebut, mengandung misi yang sangat mulia, dengan Basilmuh sejumlah tokoh adat dan ulama berharap yang terbaik dalam pelestarian Silek di Kubuang 13, Solok dan sekitarnya.

Sementara itu, Walikota Solok Zul Elfian mengatakan, generasi muda harus pandai mengaji dan silek. Sebab kedua hal tersebut merupakan sebuah pusako di Minang Kabau. Muda-mudi di Kota Solok juga dihimbau untuk ikut menjaga, meneruskan nilai-nilai adat dan budaya sebagai warisan leluhur, sehingga menjadi sebuah pergerakan dalam mempertahankan jati diri bangsa, bahwa dengan menjaga dan melestarikan budaya Mengaji dan Bersilek adalah tanggaung jawab serta kewajiban semua pihak.

Menurut, Zul Elfian, dengan diselenggarakanya kegiatan Silek, semoga dapat mengembalikan gairah, semangat masyarakat akan kearifan lokal.

“Kegiatan ini untuk kembali mengairahkan semangat masyarakat Kota Solok, terutama para generasi muda. Sudah seharusnya kita bersyukur sehingga dapat menyelenggarakan kegiatan ini,” kata Zul Elfian.

Walikota juga berharap kepada guru-guru, pendekar-pendekar Silek untuk menurunkan ilmunya kepada generasi muda penerus bangsa, sehingga Silek dapat lestari sepanjang masa.

“Saya minta kepada seluruh guru-guru dari berbagai daerah di Kota dan Kabupaten Solok, dari berbagai macam perguruan Silek Kubuang Tigo Baleh, untuk meneruskan ilmunya kepada generasi muda kita sebanyak-banyaknya, sehingga anak-anak kita semua tetap pandai mengaji dan bersilek, serta berbudi, berbahasa dan berbudaya yang baik,” kata Zul Elfian.

Hal senada juga dikatakan Wakil Walikota Solok, Reinier. Menurutnya, meneruskan Silek kepada generasi muda adalah kewajiban dan tanggung jawab semua pihak.

“Jangan sampai generasi penerus kita tidak mendapatkan pusako ini. Sehingga kewajiban menjadi hak kita semua dalam mempertahankan budaya Silek,” kata Reinier.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Solok, Yutris Can mengaku sangat mendukung kegiatan yang melestarikan kearifan lokal Solok, seperti Basilumuh tersebut.

Menurutnya, langkah Pemko Solok sudah cukup baik, karena tidak hanya bermanfaat, sehingga Silek dapat dilestarikan, tapi juga bisa menjadi sarana promosi dalam memperkenalkan Kota Solok dengan berbagai iven-iven kearifan lokalnya, sehingga dapat menggenjot sektor pariwisata.

“Silek dalam sawah ini, sudah lama dilakukan oleh para nenek moyang kita dahulu, ketika usai musim panen. Tentu DPRD mendukung hal-hal seperti ini, karena ini adalah warisan nenek moyang kita yang harus kita lestarikan. Kemudian juga sekaligus dapat menggenjot sektor pariwisata di Kota Solok,” kata Yutris Can.

Dalam Festival Silek Tuo itu pula dilakukan penganugerahan penghargaan gelar kebesaran dari lembaga adat Kota Solok kepada Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan, berdasarkan surat keputusan (SK) Kerapatan Adat Alam Minang kabau (LKAAM), dan KAN Kota Solok, kepada Kapolres Solok AKBP Dony Setiawan dengan gelar Datuk (Dt) Pandeka Rajo Mudo.

Penobatan Kapolres Solok Kota dengan menyandang gelar Dt. Pandeka Rajo Mudo, dilaksanakan oleh Ketua LKAAM Kota Solok H.Rusli Khatib Sulaiman, dan Ketua KAN Kota Solok Yanuardi Dt.Tan Ali.

Sementara itu, pemasangan Deta serta melingkarkan kain Sarung sebagai tanda penobatan gelar adat, dilakukan oleh H.Daswippetra Dt.Manjinjiang Alam yang didampingi oleh Ketua Bundo Kanduang Kota Solok. (EYN)