Patukan Ular di Gua Tsur

14 views

RASULULLAH shalallahu ‘alaihi wa sallam hendak dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy. Dalam peristiwa ini diam-diam Rasulullah bersama Abu Bakar pergi dengan menyusup melalui pintu belakang rumahnya. Keduanya pergi berhijrah ‘ke Madinah.

Demi menghindari kejaran para pemuda Quraisy yang hendak mencelakai Rasulullah, keduanya bersembunyi di Gua Tsur. Dalam kepekatan malam, Abu Bakar dan Rasulullah mendengar derap kaki para pemuda Quraisy di atas dinding bebatuan Gua Tsur. Abu Bakar sangat mencemaskan Rasulullah. Sang Rasul mulia itu tak boleh terluka, apalagi terbunuh. Siapakah nantinya yang akan menyampaikan pesan Allah Ta’ala kepada seluruh umat jika beliau tidak ada? Siapakah cahaya bersinar yang akan menerangi kegelapan dunia, jika bukan dirinya?

“Wahai Rasulullah, hanya kita berdua di tempat ini. Andai mereka melihat ke arah kaki mereka, niscaya mereka akan menemukan kita,” keluh Abu Bakar.

“Sesungguhnya kita tidak berdua saja, Abu Bakar. Ada Allah yang menjaga kita,” jawab Rasulullah.

Mendengar jawaban beliau, hati Abu Bakar menjadi tenang. Abu Bakar dan Rasulullah sepakat berjaga bergantian. Rasulullah tidur terlebih dahulu di pangkuan Abu Bakar. Ketika beliau tidur, Abu Bakar mendengar desisan ular berbisa mendekati kakinya. la ingin sekali beringsut, namun tidak tega jika membuat Rasulullah terbangun. Ular berbisa itu pun menggigit kaki Abu Bakar. Dalam waktu singkat, bisa ular itu mulai menjalar ke tubuh Abu Bakar. Keringat dinginnya mengucur. Tubuhnya menggigil. Abu Bakar menangis menahan rasa sakit. Air matanya menetes ke pipi Rasulullah. Air mata yang mengalirkan kesejukan cinta itu membuat beliau terbangun. “Kenapa kau menangis, Abu Bakar? Apakah engkau menyesal karena menyertaiku?” tanya Rasulullah

“Bukan. Tadi seekor ular mematuk kakiku, wahai Rasul. Dan bisanya menjalar ke tubuhku hingga terasa sakit sekali,” jawab Abu Bakar terbata-bata.

“Masya Allah, kenapa engkau tidak menghindarinya?” tanya Rasulullah

“Aku tidak ingin membuat engkau terbangun,” jawab Abu Bakar.

Mendengar jawaban Abu Bakar, Rasulullah merasa terharu. Beliau tersanjung melihat cinta Abu Bakar yang amat besar. “Aku sangat bahagia memiliki seorang sahabat sepertimu, Abu Quhafah,” kata Rasulullah.

Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah memegang pergelangan kaki Abu Bakar. Beliau mengobati luka itu dengan air ludahnya. Atas izin Allah, luka bekas gigitan ular itu lenyap seketika. Abu Bakar pun terbebas dari rasa sakit.

Malam pun semakin larut. Kaum kafir tak terdengar lagi derap kakinya di atas dinding gua. Tiada lagi suara kecuali zikir dedaunan dan selimut malam. “Tidurlah di pangkuanku, wahai Abu Quhafah!” kata Rasulullah

“Tidak, wahai Rasulullah. Aku tidak akan membebani pangkuanmu denganku,” jawab Abu Bakar. Ia memilih tidur tanpa alas Gua Tsur yang dingin. []

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing.