Masa Tanggap Darurat Bencana Pacitan Diperpanjang Hingga 11 Desember

139 views

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan pers terkait perkembangan dan penanganan erupsi Gunung Agung di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Senin, 27 November 2017.

SpiritNews.Co, Jakarta | Korban akibat banjir dan tanah longsor di Pacitan, Jawa Timur kian bertambah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, masa tanggap darurat penanganan korban akan diperpanjang.

Pemerintah Kabupaten Pacitan sebelumnya mengeluarkan Surat Keputusan Bupati Keadaan Darurat yang ditetapkan oleh Bupati Pacitan selama tujuh hari, sejak 28 November hingga 4 Desember 2017. Namun, mengingat jumlah korban terus bertambah, maka masa tanggap darurat diperpanjang tujuh hari hingga 11 Desember 2017.

Hingga saat ini, korban jiwa dalam bencana ini sebanyak 25 orang.

“Dengan rincian, sudah ditemukan meninggal dunia 20 orang dan belum ditemukan lima orang,” ujar Sutopo melalui keterangan tertulis, Sabtu, 2 Desember 2017.

Jumlah pengungsi yang tercatat hingga kini sebanyak 2.050 orang. Sejumlah pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumah. Sementara korban yang rumahnya rusak berat, mengungsi di rumah keluarganya.

Tambahan bantuan

Sutopo mengatakan, bantuan ke lokasi bencana juga ditambah.

BNPB memberi bantuan heli bell 412 untuk percepatan penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor. Selain itu, Gubernur Jatim Soekarwo dan Pangdam Brawijaya Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko datang ke Pacitan untuk berkoordinasi dengan jajarannya guna percepatan penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor.

“Salah satu poin penyampaian Gubernur Jatim tentang pemberian jadup (jaminan hidup) untuk warga terdampak sebesar Rp 900.000 per jiwa selama tiga bulan,” kata Sutopo.

Asosiasi pengusaha Banjarmasin asal Pacitan juga berpartisipasi memberi bantuan dana sebesar Rp 500 juta. Untuk masalah komunikasi, Telkomsel bersedia memberikan BTS mobile untuk daerah terdampak.

Untuk persediaan makanan, dapur umum terpusat di Kelurahan Pacitan oleh Dinas Sosial diperkuat bantuan warga dan Denbekang Korem Madiun. Sementara itu, untuk pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan setempat membuka 34 titik pelayanan kesehatan dengan 30 dokter, 150 perawat, 100 bidan dari Kabupaten Pacitan, dan perbantuan ikatan profesi kesehatan lainnya. PDAM juga menyediakan air bersih dengan kekuatan 2 tangki dan distribusi sesuai permintaan dari kepala desa.

“Pembersihan lingkungan secara swadaya telah dilakukan oleh masyarakat, dibantu truk dari pemadam serta relawan. Mereka fokus pembersihan lingkungan di jalan, fasilitas umum, sekolah, ibadah, dan tempat tinggal,” kata Sutopo.

PLN juga membantu mengecek dan memperbaiki jaringan listrik.

Di tengah bantuan yang dikerahkan, ada sejumlah hambatan yang ditemui dalam menanggulangi pasca bencana. Kendala tersebut yaitu keterbatasan jumlah alat berat untuk percepatan pembersihan lingkungan, alat berat belum bisa masuk ke area pencarian korban longsor karena medan dan jalan masuk yang merupakan jalan desa, dan belum tersedianya tempat pembuangan sampah sisa banjir.

Kondisi pasca bencana di wilayah Pacitan saat ini sudah surut, meski masih meninggalkan genangan dengan ketinggian 20-30 centimeter. Selain itu, kondisi lumpur dan sampah sisa banjir masih sangat banyak berceceran di perumahan warga terdampak.

 

(red)