Ini Rekam Jejak Calon Tunggal 3 Pilkada di Banten

193 views

Iti Oktavia Jayabaya-Ade Sumardi mendaftar ke KPU Lebak.

SpiritNews.Co, Lebak | Anomali Pilkada Serentak 2018 terjadi di Provinsi Banten. Pada 27 Juni nanti, masyarakat di Kabupaten Lebak, Tangerang dan Kota Tangerang akan dipaksa memilih petahana sebagai calon tunggal. Atau, terpaksa menentukan pilihan masa depan pada sebuah kotak kosong.

Fenomena calon tunggal ini dinilai oleh Dekan Fisip Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Agus Safari karena kuatnya politik dinasti dan cara berdemokrasi yang tidak sehat selama ini di Banten.

Partai politik tidak memberikan pendidikan kepada warganya. Para elit juga menunjukan sifat pragmatisnya yang tak siap kalah dalam kontestasi Pilkada.

Selain itu, masyarakat Banten selama ini juga belum melek politik. Keterbatasan akses informasi berimbang sulit didapatkan warga Banten karena terjadi monopoli ruang sosialisasi dan promosi politik oleh masing-masing petahana dan keluarganya.

Selain itu, organisasi masyarakat dan tokohnya pun sudah dalam pengaruh para calon-calon petahana.

“Paling kuat adalah media lokal dan tempat-tempat publik yang mudah mempromosikan dirinya,” kata Agus pada Selasa lalu, 9 Januari 2018.

Kuatnya politik dinasti dan cara berdemokrasi yang tak sehat terbukti misalkan di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Tangerang. Catatan detikcom, calon petahan di dua daerah tersebut memiliki akar politik yang kuat karena masing-masing keluarganya pernah menjabat sebagai kepala daerah.

Calon Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya misalnya. Sebelum daerah Lebak dipimpin oleh Iti sebagai bupati periode 2013-2018, daerah ini sepuluh tahun dipimpin oleh ayah sendiri. Seorang tokoh PDIP di Banten bernama Mulyadi Jayabaya. Nama belakangnya itu kemudian melekat pada Iti sebagai keluarga Jayabaya.

Saat mendaftar ke KPU Lebak pada Rabu kemarin, 10 Januari 2018, Iti membawa serta dukungan 11 partai politik yang ada di Lebak. Iti sendiri saat ini menjabat Ketua Demokrat Provinsi Banten. Dan ia menggandeng Ade Sumardi dari kader PDIP.

Nama Ade pun tak asing bagi warga Lebak. Karena selama 5 tahun menjabat, Ade setia mendampingi sebagai wakil bupati Iti.

“Alhamdulillah, terima kasih atas doa dan dukungannya terutama kepada partai politik maupun masyarakat, berkat doanya para kiai dan alim ulama, satu persyaratan yang menjadi syarat wajib itu sudah memenuhi persyaratan,” kata Iti di KPU Lebak.

Sama halnya di Kabupaten Tangerang. Calon tunggal Ahmed Zaki Iskandar-Mad Romli juga memiliki akar kuat politik dinasti.

Zaki adalah Bupati Tangerang periode 2013-2018. Sebelum dipimpin olehnya, kabupaten yang diisi ribuan industri ini selama 10 tahun dipimpin oleh ayahnya bernama Ismet Iskandar pada 2003 sampai 2013. Mantan gubernur Banten Rano Karno, pernah menjadi wakil bupati Ismet pada periode 2008-2013.

Sedangkan Mad Romli, sebelum memutuskan untuk menjadi wakil bupati mendampingi Zaki Iskandar, ia adalah Ketua DPRD Tangerang yang juga dari partai Golkar.

Kedua calon yang diusung Golkar ini kemudian memborong semua partai di Tangerang. Saat pendaftaran ke KPU pada Rabu kemarin, 10 Januari 2018, kedua membawa serta 12 partai politik. Ada PDIP, NasDem, Demokrat, Hanura, PKS, PPP, PKB, Gerindra, PKPI, PAN, dan PBB.

“Pokoknya semua partai mendukung Pak Zaki, semuanya 50 kursi di DPRD,” kata Komisioner KPU Zaenal.

Berbeda dengan dua daerah di atas, Pilkada Kota Tangerang memang tak memiliki akar kuat politik dinasti. Namun calon tunggal di daerah ini yaitu Arief Wismansyah-Sachrudin adalah pemenang Pilkada 2013 dengan 48,01 persen suara. Ia mengalahkan 4 pasangan lain dengan suara mencolok.

Arief Wismansyah sendiri adalah politisi dari Partai Demokrat. Sedangkan Sachrudin adalah wakil wali kota dari Partai Golkar. Keduanya adalah petahana yang memborong semua partai.

Sebetulnya, di Pilkada Kota Tangerang, PDIP berpeluang mengusung calon sendiri karena memiliki 10 kursi keterwakilan di DPRD. Namun, partai ini memilih bergabung dengan Golkar yang memiliki 6 kursi, Gerindra 6 kursi, PPP 5 kursi, Demokrat 5 kursi, PKB 5 kursi, PAN 4 kursi, PKS 4 kursi, Hanura 3 kursi, dan NasDem 2 kursi.

“Sekarang pengennya kita, kotak kosong dijadikan kawan,” kata Arief Wismansyah pada Senin lalu, 8 Januari 2018. (red)

Pilkada Pilkada 2018 Pilkada Serentak Pilkada Serentak 2018