ICJR: Pola Intimidasi Kasus Novel Akan Terus Berulang jika…

206 views

Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Supriyadi Widodo Eddyono.

SpiritNews.Co, Jakarta | Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (I CJR) Supriyadi Widodo Eddyono berharap kepolisian berhasil mengungkap kasus kekerasan yang dialami oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Novel Baswedan.

Meski kesulitan, kata Supriyadi, polisi harus berhasil mengungkap motif, pelaku lapangan dan otak di balik tindakan tersebut. Jika tidak, intimidasi serupa akan terus terjadi.

“Saya berharap pelakunya berhasil ditangkap. Tidak hanya pelaku lapangan tapi juga otak kriminalnya atau dalangnya,” ujar Supriyadi saat dihubungi, Senin, 24 April 2017.

Supriyadi menuturkan, pola intimidasi dengan menyiramkan air keras ke wajah seseorang atau “acid attack” memiliki kecenderungan berulang.

Pola intimidasi seperti itu, kata Supriyadi, tidak jarang menimpa orang-orang yang dianggap sebagai simbol penegakan hukum dan upaya pemberantasan korupsi.

Menurut Supriyadi, sejak 2013 hingga 2017, I CJR menemukan sekitar 20 kasus “acid attack” yang polanya sama dengan kejadian yang dialami oleh Novel.

Dia mencontohkan, pada Desember 2016, seorang aktivis anti-korupsi di Palembang juga pernah disiram dengan air keras oleh orang tidak dikenal.

Kasus tersebut diduga kuat terkait dengan kasus korupsi dana bantuan sosial. Hingga saat ini polisi belum berhasi mengungkap pelaku, motif dan dalang dari aksi “acid attack” tersebut.

Selain itu, “acid attack” merupakan model kejahatan yang mudah dilakukan tanpa meninggalkan banyak bukti di tempat kejadian perkara (TKP).

“Ada banyak kasus yang kami temukan. Paling tidak kami bisa menemukan 20-an kasus sepanjang 2013 hingga 2017. Nah kalau kasusnya Novel ini tidak bisa diungkap maka pola ancaman atau intimidasi seperti itu bisa terjadi ulang,” ucap Supriyadi.

Selain itu, lanjut Supriyadi, keberhasilan polisi menuntaskan kasus Novel juga penting bagi upaya pemberantasan korupsi.

Dia berpendapat, saat ini banyak pihak yang tidak suka dengan kerja-kerja KPK merasa leluasa karena berhasil melakukan intimidasi tanpa diketahui.

“Novel diserang karena kemungkinan dia menjadi simbol penegakan hukum anti-korupsi. Pihak-pihak yang tidak senang ingin menunjukkan bahwa mereka bisa melakukan apa saja,” ungkapnya.

“Pesannya sampai. Ini sebenarnya kan pesan bahwa mereka bisa melakukan intimidasi dan ini contoh. Bagi yang lain harap hati-hati karena bisa terjadi hal yang sama,” tutur Supriyadi.

Penyiraman air keras terhadap Novel terjadi pada 11 April 2017 oleh orang tidak dikenal seusai shalat Subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta.

Penyiraman itu diduga dilakukan oleh dua orang yang berboncengan dengan sepeda motor. Polisi memeriksa belasan saksi serta rekaman CCTV yang ada di rumah Novel terkait perkara itu.

Polda Metro Jaya telah mendapatkan identitas dua orang yang fotonya telah dimiliki polisi sebelumnya. Kedua orang itu kemudian diperiksa di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Namun, polisi memastikan dua orang itu tidak terkait dengan penyiraman Novel. Novel Baswedan merupakan Kepala Satuan Tugas yang menangani beberapa perkara besar yang sedang ditangani KPK.

Salah satunya adalah kasus dugaan korupsi dalam pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik ( e-KTP). (red)