Gelombang Tinggi di Laut Selatan, BMKG Minta Masyarakat Waspada

17 views

Kepala BMKG Dwikorita (Foto: Ist).

SpiritNews.Co, Jakarta | Kasus tenggelamnnya kapal laut kembali terjadi. Pada Minggu 29 Juli 2018, Kapal Kayu Berkat Ilahi tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi di perairan laut Torobabula Timur, Desa Nggelu Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatalogi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, berdasarkan analisa BMKG, kondisi cuaca dan tinggi gelombang pada saat kejadian hingga 11.00 kecepatan angin 18-27 km/jm (kategori sedang) dari arah Tenggara.

Sementara kondisi gelombang tinggi saat kejadian hingga pukul 11.00 di sekitar lokasi kecelakaan 3.0 -4.0 meter (kategori tinggi-sangat tinggi).

Dwikorita menjelaskan, bahwa kondisi cuaca berdasarkan pantauan satelit cerah berawah di sekitar lokasi kejadian.

“Stasiun Meteorologi Bima telah melakukan berbagai langkah-langkah sebagai salah satu langkah respons terhadap kejadian tenggelamnya kapal Kayu Berkat Ilahi, seperti telah memberi hasil dan desiminasi melalui prakiraan cuaca penyeberangan yang disampaikan secara rutin serta melakukan koordinasi dengan Basarnas untuk melakukan evakuasi korban,” kata Dwikorita seperti dilansir dari Okezone, Selasa, 31 Juli 2018.

Oleh karena itu, ia meminta kepada nelayan agar memperhatikan tinggi gelombang di perairan sekitar agar tidak kembali terjadinya kapal tenggelam.

“Masyarakat nelayan dan pelaku kegiatan wisata bahari agar memperhatikan tinggi gelombang laut mencapai 2 meter atau lebih di sekitar wilayah Perairan Selatan Bima dan Perairan Samudera Hindia Selatan NTB,” imbau Dwikorita.

Ia pun mengimbau bagi masyarakat yang sedang menikmati keindahan pantai akan bahaya “Rip Current” yang merupakan arus kuat air yang bergerak menjauh dari pantai sehingga dapat menyapu perenang terkuat sekalipun.

Kata dia, Rip/ Back Current terjadi karena adanya pertemuan ombak yang sejajar dengan garis pantai sehingga menyebabkan terjadinya arus balik dengan kecepatan tinggi hingga lebih 2 m/detik, tergantung kondisi gelombang, pasang surut dan bentuk pantai.

“BMKG pun berupaya memberikan peringatan bahaya “Rip Current’ kepada masyarakat melalui media sosial,” pungkasnya.

Perlu diketahui, menurut BMKG, hingga akhir Juli 2018 masih terjadi potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan di Indonesia.

Untuk 7 hari kedepan (31 Juli-5 Agustus 2018), masyarakat terutama nelayan perlu mewaspadai potensi gelombang potens tinggi Tinggi yang dapat mencapai, 4.0 – 6.0 meter (Very Rough Sea) yang berpeluang terjadi di Perairan Sabang, Perairan Mentawai, Perairan Bengkulu hingga barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga P.Sumba, Selat Bali – Selat Lombok – Selat Alas bagian selatan.

Tetapi pada 31 Juli-2 Agustus diprakiran terjadi penurunan tinggi gelombang menjadi kategori Rough Sea, dan akan kembali terjadi peningkatan tinggi gelombang menjadi kategori Very Rough Sea pada tanggal 03 – 04 Agustus 2018.

Sementara itu, tinggi gelombang 1.25 – 2.5 meter (Moderate Sea) berpeluang terjadi di Selat Ombai, Selat Sape bagian selatan, Laut Timor, Laut Natuna Utara, Perairan utara Kep. Natuna, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa , Selat Makassar, Laut Bali, Laut Flores, Perairan timur Sulawesi Tenggara, Laut Maluku, Laut Seram, Perairan utara Papua, Perairan Fak-fak – Kaimana, Perairan selatan Ambon, Laut Banda, Perairan Kep. Sermata hingga Kep. Tanimbar, Perairan Kep. Kai – Kep. Aru, Laut Arafuru.

Sedangkan di Selat Malaka bagian utara, Perairan barat Aceh, Perairan timur P. Simeulue hingga Nias, Selat Sumba bagian barat,Perairan selatan P. Sawu – P. Rote, Laut Sawu berpeluang terjadi tinggi Gelombang 2.5 – 4.0 meter (Rough Sea).

Gelombang tinggi di Perairan Selatan Indonesia dipicu oleh kecepatan angin yang tinggi. Selain itu, kondisi ini diakibatkan adanya Mascarene High di Samudera Hindia (Barat Australia). Kondisi ini juga menyebabkan terjadinya swell akibat dari kejadian mascarene high yang menjalar hingga wilayah Perairan Barat Sumatera, dan Selatan Jawa hingga Pulau Sumba.

Mascarene High itu sendiri merupakan kondisi tekanan tinggi yang bertahan di Samudera Hindia (barat Australia) yang memicu terjadinya gelombang tinggi di Perairan Selatan Indonesia.

Untuk 3 hari kedepan, diwilayah Perairan Utara Bima diprakirakan terjadi potensi gelombang tinggi berkisar 0.5-0.75 m dan Perairan Selatan Bima berkisar 0.75-3.5 meter, Pelabuhan Bima Berkisar 0.5-0.75 m dan Perairan Samudera Hindia Selatan NTB berkisar 2.0 meter-4.0 meter. (okz/red)