Fenomena Keberadaan Pengemis di Kota Solok

50 views

Ilustrasi.

SpiritNews.Co, Solok | Pengemis yang mengatasnamakan sebagai penyantun anak yatim, rumah ibadah atau dari yayasan sosial kian marak berseliweran di Kota Solok, Sumatera Barat (Sumbar).

Mereka bergentayangan di berbagai tempat. Bahkan mereka berusaha meyakinkan warga, bahwa mereka ditugaskan, lengkap dengan membawa foto-foto dan surat tugas meminta-minta.

Mulai dari yang berpenampilan ala kadarnya dengan raut wajah sedih, mengaku lapar dan tinggal seorang diri, hingga yang berdasi serta bersepatu, mengatasnamakan dari yayasan atau rumah ibadah, lengkap dengan surat tugas, foto.

Ada yang beralasan untuk pembangunan Masjid, panti asuhan atau pondok pesantren, adapula yang mengaku untuk sejumlah kegiatan sosial seperti kerja bakti atau perlombaan tertentu di yayasan atau lembaga sosial yang menugaskan mereka.

Target mereka pada umumnya adalah kantor instansi pemerintah/swasta, toko, warung nasi, pasar dan tempat keramaian lainnya. Ada juga diantara mereka yang mendatangi rumah penduduk, lengkap dengan penampilan sederhana. Mereka beralasan sumbangan dikumpulkan untuk anak yatim, panti asuhan, pembangunan masjid, serta yayasan sosial ke masyarakatan lainnya.

Para pengemis di Kota Solok, tidak hanya dari dalam Kota, bahkan ada juga yang dari luar Kota, seperti Sijunjung, Sawah Lunto, Kabupaten Solok dan lainnya.

Seperti salah seorang pengemis yang mengaku bernama Pakiah (55) yang berasal dari Padang Belibing, Kabupaten Solok ini. Dia mengaku terpaksa mengemis dengan dalih ingin berbakti kepada kampung, membantu meringankan beban anak yatim piatu. Hasil pendapatan Pakiah hanya dipotong untuk biaya makan dan transportasi, selebihnya untuk anak-anak yatim atau untuk biaya merawat kebersihan kampungnya.

Sementara pengemis lainnya, yang enggan disebut nama mengaku terpaksa karena tidak memiliki pekerjaan tetap, hanya bekerja serabutan, terkadang mengemis menjadi pilihan ketika mengangur, ada yang ingin menjadi petani tapi tidak memiliki lahan untuk digarap.

Ada pula yang memungut sumbangan untuk membangun rumah ibadah yang terbengkalai, pendapatan perhari juga tidak menentu, dalam sehari berkisar Rp.75 ribu hingga Rp.150 ribu. Dalam sebulan mereka bisa meraup hingga Rp.3 juta.

Tidak dipungkiri ditemukan pula pengemis yang pura-pura buta, adapula kumpulan pengemis mulai dari pemandu yang mengkoordinir hingga jajaran anak buahnya yang lengkap, di sebar ketiap sudut Kota, mereka menggunakan sistem bagi hasil.

Maraknya fenomena pengemis dinilai sebagai persoalan sosial yang harus disikapi serius oleh pemerintah.

Salah seorang Anggota DPRD Kota Solok, Dalius mengatakan, banyak pengemis yang bergentayangan di Kota Solok mengatasnamakan dari utusan yayasan pembangunan rumah ibadah, panti asuhan, atau pondok pesantren tertentu, padahal belum tentu demikian.

Menurut Dalius, aksi meminta-minta yang kerap terjadi akhir-akhir ini disinyalir merupakan dampak dari sulitnya perekonomian masyarakat, serta tingginya angka pengangguran.

“Pemerintah mesti turun ke bawah melihat mereka yang berada pada garis kemiskinan, kesulitan dan banyak yang meminta-minta. Mereka seharusnya diarahkan menjadi kalangan yang produktif,” katanya. (eyn)