Dakwah Rasul, Mencabut Jahiliyah Sampai ke Akarnya

43 views

Rombongan umat Islam yang berlindung ke Habasyah dihadapkan kepada Najasyi, raja Habasyah. Sang raja duduk di singgasananya didampingi Amru bin ‘Ash di sebelah kanannya, ‘Ammarah di sebelah kirinya dan beberapa pemuka kerajaan duduk diam terpaku menyaksikan peristiwa yang terjadi. Selesai bermajelis, beberapa pemuka kerajaan berkata, “Sujudlah kalian kepada raja!” Ja’far bin Abi Thalib menyahut, “Kami tidak bersujud selain kepada Allah.”

Betapa besarnya jiwa sahabat yang dididik oleh guru terbaik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Moralnya begitu tinggi, jiwanya tidak bisa dibeli, mata mereka tidak silau dengan kemewahan dunia dan kehormatan-kehormatannya. Apa yang dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, sehingga punggung mereka tidak bisa tertunduk kecuali kepada Rabbul ‘Alamin?

Melepaskan Pangkal Kejahiliyahan

Revolusi iman yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan revolusi yang paling ajaib dalam sejarah manusia. Ajaib dalam segala hal, ajaib dalam kecepatannya, ajaib dalam cakupannya yang menyeluruh, ajaib dalam kejelasan konsepnya yang mudah dipahami. Terlebih dalam masalah sifatnya yang mendalam, seperti sahabat yang pernah berzina, karena dorongan batinnya, ia rela melaporkan dirinya sendiri kepada beliau supaya dirajam.

Sungguh kondisi yang terbalik daripada saat mereka masih jahiliyah, keyakinannya tentang Tuhan hanya sebatas pencipta langit dan bumi. Keyakinannya tentang Tuhan sangat kabur dan samar, tidak menimbulkan rasa takut dan cinta. Sehingga agama tidak lebih dari sebuah tradisi, tidak ada urusan dengan perbuatan manusia.

يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

“Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah.” (QS. Ali Imran: 154)

Karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga belas tahun berdakwah di Makkah menyerukan iman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari akhir. Dakwah dilakukan secara terus menerus, apa adanya, tanpa dipoles-poles, tanpa merasa rendah dan tidak pilih-pilih orang. Beliau memandang bahwa dakwah seperti ini merupakan obat bagi setiap penyakit masyarakat.

Setelah mendengar seruan untuk beriman kepada Allah, mereka merasa pengap hidup dalam kubangan Jahiliyah. Hati merasa resah dan gelisah seolah tak ada yang bisa melegakan dadanya selain beriman kepada Allah dan Rasul-nya.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur : 39)

Dakwah yang apa adanya itu berhasil menyentuh jantung kejahiliyahan. Terbukti mereka selalu menghalang-halangi, mengintimidasi dan menindas siapa saja yang menerima dakwah beliau. Namun hal itu justru semakin menambah kesetiaan terhadap agama Islam dan menguatkan kebencian terhadap kekufuran. Semangat Islamnya berkobar, sehingga mereka keluar dari cobaan itu laksana pedang yang habis diasah.

Dalam kondisi semangat untuk membalas kedzaliman, beliau justru menyibukkan umat Islam dengan perintah membaca al-Qur’an dan mendirikan sholat. Karena tujuan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjauhkan umat Islam dari kebiasaan Jahiliyyah sejauh-jauhnya. Sehingga mereka tidak tergesa-gesa, tidak pendendam, tidak tenggelam dalam nafsu dan mampu lapang dada. Mereka kembalikan perintah berperang kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan nafsu dan hasrat duniawi lainnya. Sehingga terputuslah jantung dan pangkal kejahiliyahan dari diri mereka, yaitu syirik dan kufur.

Allah Tujuan Utama

Setelah berhasil mengalahkan pangkal kejahiliyahan, mereka terus mengalami kemenangan-kemenangan. Hal ini tidak lain karena ketinggian iman mereka kepada Allah. Sehingga mereka tidak berambisi terhadap duniawi, hanya Allah tujuan mereka.

Ketika Allah menjadi tujuan mereka, benar-benar gemerlap dunia tidak ada artinya bagi mereka. Lihatlah Rib’i bin Amir yang diutus untuk menemui Rustum ketika perang Qadisiyah. Rustum yang dihias dengan kemewahan, kasur sebagai alas duduknya, permadani sutera, batu-batu permata dan mutiara besar dan mahal bertebaran di ruangannya. Rib’i bin Amir turun dan menambatkan kudanya di dekat bantal-bantal sambil menenteng pedang. Orang-orang menegurnya, ia membalas :

إني لم آتكم وإنما جئتكم حين دعوتموني فإن تركتموني هكذا وإلا رجعت

“Aku datang kemari tidak lain hanyalah atas undangan kalian. Jika kalian senang, biarkan aku dalam keadanku, seperti ini, atau kalau tidak , aku akan pulang.” Akhirnya, Rib’i bin Amir menghadap Rustum, membawa tombak masuk hamparan karpet merah. Seketika itu pula karpet terkoyak-koyak. (al-Bidayah wan Nihayah, 7/40)

Ketika umat Islam berhasil memasuki kota Madain dan mengumpulkan barang-barang ghanimah yang sangat banyak, belum pernah mereka lihat sebelumnya. Seseorang bertanya kepada Amir bin Abi Qois, “Apakah engkau telah mengambil sesuatu?” Ia jawab :

أما والله لو لا الله ما أتيتكم به

“Demi Allah, kalau bukan karena Allah, barang ini tidak akan kuserahkan kepada kalian.” (Tarikh ath-Thabari, 4/16)

Iman ini benar-benar memberikan kekuatan kepada umat Islam. Iman kepada akhirat melahirkan keberanian yang luar biasa. Seperti Umair bin al-Hamam al-Anshari pada saat perang Badar, mendengar Rasulullah bersabda, “Berangkatlah menuju surga seluas langit dan bumi!” Kemudian Umair mengeluarkan bekal kurma dari kantongnya, memakannya beberapa buah dan berkata :

لئن أنا حييت حتى آكل تمراتي هذه إنها لحياة طويلة

“Jika aku menghabiskan kurma ini, akan terlalu lama aku hidup.” Ia buang sisa kurmanya, segera maju ke medan laga dan bertempur hingga syahid. (HR. Muslim)

Sungguh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah merubah masyarakat Jahiliyah menjadi terhormat di mata dunia. Melalui metode yang tepat, yaitu diawali dengan mencabut kejahiliyahan dari akarnya. Setelah hati bersih dari jahiliyah, maka ia ibarat tanah yang siap ditanami padi, beliau menanamkan iman terlebih dahulu. Setelah itu, memerintahannya untuk sibuk dengan al-Qur’an dan mendirikan sholat. Wallahu a’lam bish shawab. [Kiblat]

Penulis: Zamroni