Berita Hoax Sempat Naik-Turun, Puncaknya saat Pilpres 2019

172 views

Anggota Komisi I DPR, Sukamta.

SpiritNews.Co, Jakarta | Anggota Komisi I DPR RI Sukamta menyikapi pengungkapan sindikat penyebar ujaran kebencian Saracen sebagai kasus yang serius.

Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai pada dasarnya fenomena penyebaran informasi hoax dan ujaran kebencian di Indonesia bukan baru dewasa ini terjadi.

Berdasarkan pengamatan Sukamta, pada 2010–2011 sudah marak sekali peredaran berita palsu (hoax) di media sosial. Hal itu seiring ledakan penggunaan medsos di Tanah Air maupun dunia.

Selama 7 tahun terkahir, pergerakannya juga tidak begitu dianggap prioritas karena keberadaannya yang timbul-tenggelam.

“Istilah hospitality-nya, ini ada low season dan high season. Saat ada event politik, mereka naik. Ketika sepi kontes politik, menurun pergerakannya di media sosial,” ujar dia dalam diskusi Polemik Sindo Trijaya berjudul ‘Saracen dan Wajah Medsos Kita’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 Agustus 2017.

Terakhir, kata Sukamta, orang bisa menengok kembali maraknya berita palsu selama Pilkada DKI Jakarta lalu. Serangan datang bertubi-tubi kepada tiga pasangan calon yang bersaing, yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahudin Uno, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Sementara saat ini tensi politik dipandang sedang menurun. Ia memprediksi berita hoax bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) bakal kembali meningkat pada Pilkada Serentak 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Kemarin pilkada sempat meninggi ujaran kebencian di medsos, sekarang turun. Nanti akan naik lagi, puncaknya saat Pilpres 2019,” ungkap dia.

Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah PKS Daerah Istimewa Yogyakarta itu pun menekankan betapa berbahayanya fenomena hoax ini. Bukan saja merugikan orang atau kelompok maupun korporasi yang difitnah, tetapi juga berpotensi merusak keutuhan bangsa.

Maka itu, ia sangat mengapresiasi keberhasilan Polri mengungkap sindikat Saracen yang menyebar hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Ada tiga orang yang ditetapkan jadi tersangka sejauh ini, yaitu Jasriadi (32) sebagai ketua, Muhammad Faizal Tanong (43) selaku koordinator bidang media dan informasi, serta Sri Rahayu Ningsih (32) yang merupakan koordinator grup Jawa Barat.

“Saya apreasiasi sekali shock therapy yang diberikan Polri melalui penangkapan ketiga tersangka jaringan Saracen. Tapi saya minta polisi tidak berhenti sampai di situ. Saracen perlu diusut sebaik-baiknya dan selurus-lurusnya,” ujar Sukamta.

Lulusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) itu berharap Polri bisa mengungkap jaringan bisnis lain yang sejenis dengan Saracen. Sebab, ia mendapat informasi bahwa Saracen baru perusahaan “kelas terinya”. Situs mereka tidak masuk 10 besar paling dibaca di Indonesia. Apalagi di dunia, peringkatnya masih di bawah 5 juta.

Sukamta percaya ada jaringan bisnis penebar kebencian yang akunnya lebih banyak, jaringannya lebih luas dan terorganisasi, serta modalnya lebih besar. Ia mengingatkan, jangan sampai polisi berhenti mengejar jaringan yang lebih besar dengan menjadikan Saracen scarecrow atau contoh untuk menakut-nakuti orang saja. (red)

Hoax Pilpres 2019