Aksi Premanisme Terhadap Wartawan Terjadi di Terminal Merak

13 views

Spiritnews.co | Setelah sebelumnya terjadi peristiwa pengeroyokan kepada anggota TNI oleh sekelompok preman berkedok tukang parkir di Ciracas, Jakarta Barat, kali ini pengeroyokan kembali terjadi di Merak, Banten kepada salah satu rekan pers yang sedang melakukan tugas peliputan di Terminal Terpadu Merak (TTM).

Pengeroyokan kepada Mazmur (Stinger RTV), terjadi Rabu (19/12/2018) saat Mazmur dan sejumlah wartawan tengah meliput kegiatan Ditjen Perhubungan Laut di Pelabuhan Merak, Banten.

Diketahui, Mazmur menjadi korban pengeroyokan oleh belasan preman berkedok calo di TTM pada Rabu (19/12/2018).

Dari belasan pelaku tersebut, baru satu orang yang berhasil diamankan oleh petugas Kepolisian.

Sebagai bentuk solidaritas dan dalam rangka mewujudkan situasi yang kondusif di wilayah-wilayah rawan (terminal/stasiun/bandara/pelabuhan dan tempat umum lainnya), sejumlah wartawan yang bertugas di wilayah Banten menggelar aksi solidaritas melawan premanisme, yang akan dilaksanakan Jum’at (21/12/2018) di Terminal Terpadu Merak (TTM), Banten.

Dengan harapan, aksi kekerasan di jalan maupun tempat umum lainnya bisa dihilangkan agar tidak menimbulkan keresahan kepada masyarakat (Warga Negara Indonesia) yang bepergian, khususnya wartawan dalam melakukan tugas jurnalistik, dan dalam rangka menciptakan lingkungan kondusif menuju Indonesia tentram dan damai tanpa adanya premanisme.

Kegiatan aksi solidaritas dipandang perlu, agar kejadian serupa tidak di alami oleh setiap lapisan masyarakat dan dengan dilaksanakannya aksi tersebut diharapkan mampu menekan angka kriminalitas di tempat umum.

“Ini perlu kami laksanakan, tidak hanya membawa nama pers, tapi juga demi kepentingan dan keselamatan warga negara Indonesia agar terjamin keamanan dan keselamatannya selama berada diluar, tempat umum, dan perjalanan. Bayangkan, kemarin TNI saja di keroyok, sekarang wartawan yang jelas-jelas merupakan profesi yang dilindungi oleh undang-undang. Apalagi mereka (rakyat biasa). Jika dibiarkan dan tidak ada yang mengambil tindakan, maka bahaya premanisme akan semakin merambah ke wilayah-wilayah yang lebih kecil dan dapat menjadi pangkal permasalahan terhadap situasi keamanan di Indonesia. Maka melalui aksi ini, kami berharap mampu menekan atau menghilangkan aksi arogan dari sekelompok orang liar (preman) yang sudah merusak tananan negara, dan kemerdekaan hidup di Indonesia bahkan dunia”. (red/Polda)