Ahok Abaikan Upaya NU untuk Dinginkan Suasana

312 views

Terdakwa kasus dugaan penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat menjalani sidang di PN Jakut.

SpiritNews.Co, Jakarta | Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan menilai gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok), tak tahu berterima kasih terhadap peran Nahdlatul Ulama (NU) yang telah berupaya mendinginkan panasnya situasi politik saat ini jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017.

Hal ini merespons pernyataan Ahok yang ingin memproses hukum Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Ma’ruf Amin karena dianggap memberikan keterangan palsu dalam persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Ahok pada Selasa 31 Januari 2017.

Menurut Ahok, Kiai Ma’aruf berusaha menutupi latar belakangnya yang pernah menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang notabene ayah dari Agus Yudhoyono, salah satu cagub DKI. Namun tudingan itu dibantah oleh KH Ma’aruf.

Mendapat bantahan tersebut, Ahok dan pengacaranya mengatakan bahwa mereka memiliki bukti tentang adanya telefon dari SBY kepada Ma’ruf agar bertemu dengan Agus-Sylviana.

“NU bahkan mendapat kritikan keras dari dalam karena hal ini, tapi demi menjaga persaudaraan kebangsaan kita, demi pemerintahan agar bisa membangun Indonesia dengan baik dengan suasana kondusif, NU tegar dan sabar meyakinkan ke segenap umat agar paham,” jelas Daniel, Rabu (1/2/2017).

“Bukannya membantu, kok sekarang malah ngancam-ngancam Kiai NU secara arogan,” tambahnya.

Daniel bahkan menilai Ahok tak sadar sejarah yang telah membuat dirinya menjadi Gubernur DKI Jakarta saat ini. Peran mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga petinggi NU saat itu seakan tidak dihiraukan Ahok.

“Ahok sadar sejarah tidak kalau dia bisa menjadi bupati sampai gubernur saat ini karena perjuangan Gus Dur dan warga nahdliyin, bahkan PKB bersama Banser dulu pasang badan buat Ahok,” tegasnya.

PKB, lanjut Daniel, secara tegas meminta Ahok segera menghadap Ma’ruf dan meminta maaf untuk menenangkan warga NU sekaligus meneduhkan suasana kebatinan bangsa.

“Jangan mempolitisir urusan hukum. Kiai Ma’aruf mau ditelefon atau menelefon siapa pun adalah hak beliau, bahkan secara pribadi mempunyai pilihan politik kepada siapa pun juga adalah hak beliau yang dilindungi UU dan itu tidak ada urusannya dengan Ahok. Ahok tidak berhak mengatur apalagi memvonis hak warga negara apalagi seorang kiai besar seperti Kiai Ma’aruf,” tukasnya. (red)