Usut Penipuan Berkedok “Missed Call”, Polri Akan Kerjasama dengan Interpol

40 views

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto.

SpiritNews.Co, Jakarta | Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, Polri akan berkoordinasi dengan Interpol terkait penipuan berkedok missed call atau ” wangiri”.

Warganet tengah ramai membicarakan soal missed call dari nomor luar negeri itu. Tak hanya Indonesia, negara lain dilaporkan juga mengalami hal serupa.

“Ini kan antar negara, kita harus kerjasamakan dengan interpol,” ujar Setyo seperti dilansir dari Kompas.com, Senin, 2 April 2018.

Setyo mengatakan, saat ini Polri belum memiliki data soal “wangiri” karena belum ada laporan. Ia meminta masyarakat yang menjadi korban melapor ke polisi.

“Supaya paling tidak kita bisa mengecek mereka dapat telepon dari nomor berapa,” kata Setyo.

Modus penipuan ini diketahui telah memakan cukup banyak korban dan bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada Februari lalu di Australia, sejumlah pengguna operator seluler melaporkan adanya panggilan telepon misterius dari nomor internasional.

Berdasarkan dari awalan kode negaranya, nomor-nomor ini ditengarai berasal dari Kongo, Papua Niugini, Belgia, hingga Afrika. Kasus panggilan misterius dari luar negeri ini ternyata bukan yang pertama kali terjadi.

Dilansir dari Techwelkin, Minggu, 1 April 2018, hal tersebut merupakan trik penipuan berbasis telepon premium. Scammer atau si penipu akan menyewa nomor premium internasional dari sebuah perusahaan.

Kemudian pelaku akan melakukan panggilan secara acak dan langsung menutup panggilan tersebut agar berpikir Anda melewatkan sebuah panggilan penting.

Jika korban menelepon balik, tagihan telepon akan membengkak. Tagihan inilah yang kemudian akan masuk ke kantong penipu tersebut. Maka jika Anda mengalami hal serupa, sebaiknya jangan lakukan panggilan balik agar tidak menjadi korban scam ini.

Penipuan ini diketahui sudah terjadi sejak awal 2000-an. Modus ini konon pertama kali berasal dari Jepang dan disebut ” Wangiri”. Kata “Wangiri” dalam bahasa Jepang berarti “panggilan tak terjawab”.

Di Indonesia pada 2016 lalu pun pernah terjadi hal serupa. Kala itu sejumlah pengguna operator seluler mengeluhkan menerima nomor telepon internasional dengan prefix nomor +77.

Kemudian beredar pesan berantai yang isinya mengajak pengguna ponsel berhati-hati bila menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal, apalagi berasal dari luar negeri.

Menurut pesan berantai tersebut, jika pengguna menelepon balik ke nomor internasional tadi, data nomor telepon di ponsel akan diambil dan penelepon dikenai biaya 15 hingga 30 dollar AS per panggilan.

Berdasarkan keterangan dari salah satu operator seluler di Jepang, “wangiri” merupakan skema penipuan yang menargetkan pengguna ponsel secara acak.

Pelaku membuat ribuan panggilan random pada nomor ponsel di berbagai negara hanya dengan sekali dering alias missed call. Pelaku memanfaatkan perilaku manusia yang kecanduan telepon seluler kala itu.

Dengan begitu, diharapkan ada korban yang penasaran dengan missed call ini kemudian melakukan panggilan balik. Di sinilah kemudian pelaku menguras korban.

Jika korban melakukan panggilan balik pada nomor tersebut, korban akan dikenai tarif premium sehingga tagihan teleponnya akan membludak. Tagihan inilah yang kemudan masuk ke kantong si pelaku. (kpc/red)