Satgas Pangan Pastikan Stok dan Harga Sembako Aman di Banten

61 views

SpiritNews.Co, Serang | Ketua Satgas Pangan Polda Banten Kombes Pol Abdul Karim memastikan, kondisi ketersediaan bahan pangan di Banten masih tergolong aman. Begitu juga dengan kondisi harga bahan sembako yang masih stabil, tidak mengalami lonjakan harga.

Hal ini terlihat setelah tim Satgas Pangan melakukan operasi pasar di beberapa pasar tradisional di Banten.

“Harga beras naik yaitu beras medium tidak berlangsung lama hanya beberapa hari saja. Kita langsung lakukan operasi pasar. Sementara Bulog dan Satgas Pangan mengecek langsung ke tengkulak, pasar, dan distributor beras, hanya Rp.1.000 dari harga eceran tertinggi (HET),” kata Abdul Karim saat ekspose di Mapolda Banten, Jumat, 19 Januari 2018.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Banten tersebut berharap isu kenaikan beras ini tidak dipolitisasi oleh oknum yang memanfaatkan untuk menghadapi Pemilu.

“Karena ini menarik apabila diangkat, bisa dipolitisasi. Kami mencoba memberi penegasan bahwa kestabilan harga pangan akan kita jaga sampai dengan panen raya,” ujar Abdul Karim.

Abdul Karim menjelaskan, bahwa lahan pertanian di Banten mencapai 72.192 hektar dengan hasil panen lahan mencapai 25.285 hektar dengan hasil panen gabah basah sebanyak 133.424 ton.

Ketersediaan beras di Banten pada Januari di Bulog mencapai 1.030 ton dan ketersediaan beras yang dikelola pihak swasta sebanyak 767 ton.

“Total beras mencapai 11.797 ton,” ujar Dirkrimsus.

Menurutnya, faktor yang mempengaruhi kenaikan harga beras karena terjadi keterlambatan suplai sehingga stok berkurang dan harga mengalami kenaikan. Setelah dilakukan dua kali operasi pasar, pada 11 Januari 2017 harga beras kembali stabil.

“Kita operasi pasar dengan Bulog di tiga pasar tradisional yakni di (Pasar Induk Rau) Kota Serang, Pasar Lama, dan Pasar Kranggot, Cilegon. Total distribusi beras mencapai 25 ton,” ujarnya.

Ia mengatakan, bahwa pengaruh operasi pasar tersebut cukup baik untuk menstabilkan harga. Kendati demikian Satgas Pangan dengan Pemda terus melakukan pengawasan terutama terhadap potensi penimbunan beras.

Ia menambahkan, bahwa kendala lain yang mengakibatkan harga beras naik di Banten, bahwa banten tidak memiliki gudang penampungan besar dan alat giling padi kapasitas besar. Hal itu membuat para petani menjual gabah kepada tengkulak luar Banten.

“Petani ini kan tidak bisa menampung gabah terlalu lama. Makanya mereka menjual kepada tengkulak dari luar Banten untuk dibawa ke daerah Karawang. Di sana (Karawang) setelah digiling didistribusikan dulu ke wilayah Cipinang untuk kemudian kembali ke Banten,” tuturnya.

Hal itulah yang membuat harga beras dari Banten mengalami kenaikan karena harus beredar di luar Banten dengan ongkos distribusi yang bertambah.

Ia juga menjelaskan, bahwa dalam rapat koordinasi dengan Pemprov Banten, pihaknya telah menyampaikan keadaan terebut. Rencana ke depan, Pemprov akan membuat gudang penampungan besar untuk menampung hasil panen petani di Banten. (Dewi)