Polri Imbau Masyarakat Waspadai Informasi Hoax

20 views

Juru Bicara Polri, Kombes Sri Suari.

SpiritNews.Co, Jakarta | Juru Bicara Polri, Komisaris Besar Polisi Sri Suari Wahyuni mengungkapkan, fenomena hoax maupun ujaran kebencian yang belakangan ramai di media sosial sudah diprediksi oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

“Jadi, pak Kapolri semenjak beliau naik ketika melakukan fit and proper test di DPR mengatakan, manajemen media sebagai misi utama. Beliau sudah meramalkan ini (hoax) akan terjadi dan benar, belum satu tahun beliau jadi Kapolri dan sudah terjadi,” kata Sri saat diskusi bertajuk ‘Ancaman Hoax dan Ujaran Kebencian Bagi Persatuan dan Kesatuan Bangsa’ yang digelar oleh Perhimpunan Indonesia Tionghoa di MGK Kemayoran Office, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 29 Maret 2018.

Guna mengatasi hal itu, Sri mengaku bahwa Polri telah melakukan tindakan baik preventif, maupun represif yakni pencegahan bagi masyarakat yang memungkinkan dapat melakukan hal tersebut. Pihaknya juga tak segan-segan akan menindak para pelaku yang dengan sengaja melakukan penyebaran hoax dengan kepentingan tertentu.

“Ada dua strategi polri karena ranahnya preventif dan represif. Untuk dimensi preventif dilakukan penanggulangan,” ungkapnya seperti dilansir dari Okezone.

Selain itu, dalam hal ini Polri juga menggandeng para tokoh pemuka agama agar dapat menjadi penengah dan memberikan pemahaman yang baik bagi masyarakat, terlebih agama memiliki potensi untuk disalahgunakan demi kebutuhan tertentu.

“Kita lihat tren yang berkembang bukan lagi semata-mata politik. Output-nya politik. Tetapi metode yang digunakan adalah agama, ketika doktrin agama dijadikan metoda dalam hoak maka kita dipastikan kita tidak lagi memiliki ruang keraguan, maka yang jadi kolaborator sosialnya adalah tokoh agama. Itu tadi yang dilakukan oleh Polri, melibatkan sebanyak mungkin siapa pun beliau dari tokoh baik agama budaya untuk cooling sistem sosial, mesin politik akan tetap panas,” paparnya.

Sri juga mengimbau, kepada masyarakat agar dapat selektif dalam memilah informasi. Menurutnya, di era yang serba digital harus lebih waspada dan peduli terkait informasi yang diterima dan selalu mengedepankan keragu-raguan kan sebuah informasi untuk diyakini bahwa benar sebuah fakta.

“Termasuk bapak ibu dan anak, ketika kita gunakan gadget sisakan ruang keraguan, keraguan itulah yang mendorong kita untuk rasa ingin tahu dan dorongan untuk selalu tabayyun (menyeleksi setiap informasi),” tambahnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak mudah menyebarkan sebuah informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Sebab kata dia, secara otomatis yang menyebarkan berita hoak merupakan pelaku pasif yang kemudian dapat merugikan orang lain.

“Saya jujur ketika seorang yang tidak tahu itu adalah hoak tapi dishare itu dia adalah pelaku. Jadi saya ingatkan, kalau tidak kami ingatkan kan saya salah,” tukasnya. (okz/red)