Pembunuhan Destamar, Cinta Segitiga Berujung Maut

36 views

SpiritNews.Co Solok | Misteri pembunuhan di Destamar akhirnya terungkap. Pembunuhnya akhirnya tertangkap, bahkan untuk menemukan pelaku, Polisi harus menyeberang ke Pulau Jawa.

Sebanyak dua orang dengan dibalut penutup wajah, digiring oleh petugas dari sel tahanan menuju ruang siaran pers, Polres Solok Kota, lengkap dengan pengawalan bersenjata.

Mereka adalah tersangka kasus pembunuhan di Destamar. Setelah berhasil ditangkap diketahui pelaku melakukan pembunuhan karena cemburu, dimana korban berpacaran dengan istri tersangka. Hal tersebut dikatakan Kapolres Solok Kota, Jumat, 16 Maret 2018, di Mapolres Solok Kota.

Sebelumnya masyarakat Kota Solok digegerkan dengan penemuan mayat di Jalan Destamar IV RT/3 RW/6, Transat, Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, tepatnya dibelakang rumah milik Riko Suhendri (29).

Mayat dengan keadaan mengenaskan, terbungkus karung plastik warna putih, didalam septic tank dan ditimbun tanah, ditemukan pada hari Minggu, 11 Maret 2018, sekitar pukul 11.00 WIB.

Sontak, penemuan mayat tersebut mengagetkan warga Kota Solok, setelah sekian lama tidak ada kasus pembunuhan. Tentu hal tersebut membuat masyarakat kuatir/waspada, info terkait penemuan mayat juga menyebar cepat, mulai dari tengah hingga pinggiran Kota.

Begitupun di Media Sosial, masyarakat berharap pihak kepolisian segera mengungkap kasus penemuan mayat tersebut, yang diduga adalah pembunuhan.

Diketahui Korban bernama Pariyatin panggilan Pak De Atin, kelahiran 8 Maret 1976, yang bekerja sebagai petani, warga Desa Wisama Kenanga II No. 19 RT/2 RW/4, Ampangkualo, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Di kamar jenazah RSUD Solok Istri Korban Susilawati meyakini dan memastikan korban tersebut adalah suaminya yang sudah 2 hari tidak pulang, sejak hari jumat tanggal 9 Maret 2018.

Hari demi hari berlalu, namun belum ada perkembangan, kewaspadaan masyarakat semakin meningkat, karena isu pembunuh berkeliaran di Kota Solok semakin mengkhawatirkan, terutama bagi kalangan orang tua.

Akhirnya pada hari ke empat sejak penemuan mayat, pelaku berhasil ditangkap oleh Tim Polres Solok Kota, Kamis, 15 Maret 2018, sekitar pukul 03.15 WIB, di Ladang tebu, Desa Gentong Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Pelaku bernama Awi Suyatno (41) seorang petani, beralamat di Jln Kapau RT/02 RW/06, Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok dan Alfredi (17) bekerja sebagai tukang perabot beralamat di Dusun Tinggi, Kiliranjao, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung.

Dijelaskan Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan, proses penangkapan dimulai setelah diperoleh informasi bahwa rumah milik Riko Suhendri sudah tidak ditempati oleh Riko dan istrinya.

Selama kurang lebih seminggu rumah tersebut ditempati oleh mertuanya yakni Awi Suyatno bersama keponakanya Alfredi.

Hal tersebut terjadi karena ada permasalahan rumah tangga antara Awi dengan istrinya Nurhayati, permasalahan rumah tangga mereka dikarenakan Awi mencurigai Nurhayati selingkuh dengan Pariyatin, namun Nurhayati sebaliknya menuduh Awi yang berselingkuh dengan wanita lain.

Pertengkaran yang tidak selesai tersebut akhirnya membuat Awi terpaksa menumpang di rumah anak/menantunya itu.

Meskipun telah tinggal ditempat lain dan berusaha menenangkan diri dari permasalahan rumah tangganya, Awi masih panas terbakar cemburu. Kemudian Awi berusaha memanggil Pariyatin untuk datang ketempatnya, Pariyatin kemudian mendatangi Awi.

Di dalam rumah tersebut, Awi bertanya perihal hubungan Pariyatin dengan istrinya. Kepada Awi, Pariyatin secara terang-terangan mau menikahi Nurhayati, sehingga cekcok dan adu mulut pun terjadi, kemudian dari pembicaraan tersebut berlanjut pada perkelahian yang tidak dapat dihindarkan.

Awi memukul kepala Yatin berkali-kali dengan tangan kosong, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan batu di bagian mulut korban, dibagian kening, belakang kepala, punggung, dan dada.

Hasil dari kebrutalan Awi tersebut menyebabkan satu luka robek pada dahi, tujuh luka robek pada kepala, empat gigi bagian atas patah, tengkorak bagian kanan atas telinga pecah, dan sedikit penumpukan darah pada paru-paru.

Setelah menghabisi korban, tersangka kemudian memastikan korban telah meninggal dunia, tersangka kemudian mengambil karung padi dari dalam rumahnya dan memasukan korban ke dalam karung.

Karena berat, Awi kemudian membangunkan keponakanya untuk mengangkat korban dan memasukkan korban ke dalam septic tank dan menimbun septic tank dengan tanah. Kemudian Awi dan Alfredi, membawa barang-barang milik korban berupa uang tunai, motor dan HP.

Pada hari Jumat 9 Maret 2018, Awi pamit ke anak-anaknya untuk pergi mencari kerja, dengan ditemani Alfredi, sejak saat itu Awi dan Alfredi sudah menghilang.

Awi dan Alfredi melarikan diri ke Sijunjung dan dilanjutkan ke Mojokerto, Jawa Timur, namun pelarian kedua pelaku harus terhenti di Ladang Tebu, Desa Gentong, Kamis, 15 Maret 2018, 03.15 WIB.

“Berdasarkan hasil olah TKP, keterangan saksi, barang bukti yang ditemukan di TKP serta hasil otopsi dilakukan pengejaran terhadap pelaku yang dicurigai ke Kabupaten Sijunjung dilanjutkan ke Mojokerto,” kata Dony.

Polisi mengamankan barang bukti berupa, karung plastik warna putih bermotif garis warna merah dan biru, satu buah batu yang diduga digunakan untuk memukul korban, satu buah cangkul, dua lembar baju anak-anak terdapat bercak darah yang diduga digunakan oleh pelaku untuk membersihkan darah dari tanganya dan sepasang sandal milik korban, serta uang tunai milik korban yang diambil tersangka sebanyak Rp.660.000 dan dua buah SIM Card Simpati milik korban.

“Motif pelaku adalah cemburu dengan korban, karena korban berpacaran dengan istri tersangka sejak 1 Maret dan secara terang-terangan mau menikahi istri tersangka. Modus pembunuhan adalah dengan memanggil korban ke rumahnya,” kata Dony. (van)