PAN Diprediksi Merapat ke Kubu Prabowo

10 views

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais.

SpiritNews.Co, Jakarta | Pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, mengatakan bahwa manuver Partai Amanat Nasional dalam Pilpres 2019 akan dipengaruhi oleh sosok Amien Rais selaku Ketua Dewan Kehormatan PAN.

Hamdi melihat Amien Rais cenderung mengarahkan dukungannya kepada kubu koalisi Prabowo Subianto. Sebab, pendiri PAN itu memiliki sentimen negatif terhadap Presiden Joko Widodo.

“Karena secara psikologis Amien Rais benci sama Jokowi dan mengarahkan PAN ke kubu Prabowo,” kata Hamdi seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis, 12 April 2018.

Hamdi merasa tak perlu mengungkapkan secara rinci pernyataan-pernyataan Amien yang menunjukkan kebencian terhadap Jokowi. Menurutnyaa, publik bisa melacak pernyataan-pernyataan seperti itu di dunia maya dan juga berbagai pemberitaan.

“Wah banyak benar. Lihat saja komentar-komentar Amien Rais soal Jokowi. Sebelumnya juga lebih banyak lagi,” ujar Hamdi Muluk.

Situasi itu, kata dia, membuat PAN cenderung tak akan membentuk koalisi poros ketiga bersama partai lain, seperti Partai Demokrat dan PKB. Menurut Hamdi, Partai Demokrat, PAN dan PKB telah memiliki kecenderungan preferensi politik tertentu.

Hamdi mengungkapkan, Partai Demokrat cenderung mengarah ke kubu Jokowi. Ini disebabkan Partai Demokrat akan mencari koalisi yang memiliki peluang kemenangan yang besar.

Di satu sisi, PKB juga bersikap gamang. Setelah Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mendeklarasikan diri sebagai cawapres Jokowi, PKB harus terjun dalam pertarungan perebutan kursi cawapres yang sengit. Situasi ini akan berdampak pada sikap PKB nantinya.

“Nah, apakah nanti cuma dua kubu? Atau ada kubu ketiga. Kubu ketiga secara hitung-hitungan bisa muncul. Kan yang belum jelas ada Demokrat, PAN dan PKB. Nah, itu kalau mereka buka kubu, itu bisa,” ujar Hamdi.

Hamdi menilai, jika koalisi ketiga terbentuk, maka akan terjadi kegamangan dalam menentukan kandidat calon presiden dan calon wakil presiden. Ini dikarenakan mereka juga harus memperhatikan elektabilitas calon sebagai indikator yang paling menentukan kesuksesan koalisi.

Hamdi memaparkan, elektabilitas Jokowi cenderung kuat, disusul oleh Prabowo di bawahnya. Sementara itu, nama-nama lain seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, dan politisi Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki elektabilitas yang sangat kecil.

“Yang lain kan kecil sekali, Gatot, Anies, AHY, juga pertanyaannya apakah cukup waktu menyaingi Prabowo atau Jokowi. Itu pertanyaannya,” katanya. (kpc/red)