Nenek Muklinah Tinggal di Gubuk yang Tak Layak Huni Selama 20 Tahun

52 views

SpiritNews.Co, Serang | Seorang Nenek bernama Muklinah (80), warga Kampung Pasir Buntu, Desa Lebak Pendeuy, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten, tinggal di gubuk reyotnya selama lebih dari 20 tahun.

Di usianya yang sudah uzur, Nenek Muklinah harus menghabiskan waktunya di dalam gubuknya sendirian.

Informasi yang diperoleh awak media, dan diceritkan oleh Heri petugas PPS Desa Lebak Pendeuy menjelaskan, saat itu dirinya sedang bertugas dengan Petugas Pemutahiran Data Pemilih (PPDP) Pilkada serentak 2018, melakukan tugas Cocok dan Penelitian (Coklit) di Kampung tersebut.

Saat itu kata Heri, dirinya melakukan Coklit ke rumah milik Muklinah dan disitu lah Heri merasa kaget dengan kondisi gubuk yang diisi olehnya.

“Saya sedang tugas Coklit dengan petugas PPDP, kebetulan rumah yang kami Coklit rumah milik Nenek Muklinah. Dan saat itu saya kaget dengan kondisi rumah Nenek Muklinah yang tak layak huni,” kata Heri seperti dilansir dari bantenekspose.com, Sabtu, 10 Febrauri 2018.

Menurut Heri, (Mak Emuk) ini, sapaan sehari-hari Nenek Muklinah, mengalami lumpuh pada kedua tangannnya akibat sengatan ular berbisa.

“Saat saya tanya, Mak Emuk bilang lumpuh pada kedua tanganganya akibat sengatan ular berbisa,” ucapnya.

Didalam gubuknya yang pengap dan sudah miring, ini diceritakan Heri, Mak Emuk hidup tanpa bantuan seorangpun, anak satu-satunya dari Mak Emuk yang tinggalnya tak jauh dari gubuk Mak Emuk, bernasib sama tidak berkecukupan dalam kehidupannya sehari-hari.

“Mak Emuk tinggal sendirian, anaknya tinggal sama keluarganya tak jauh dari rumah Mak Emuk, namun kondisi anaknya juga tidak cukup, untuk menghidupi keluarganya sehari-hari,” katanya.

Heri juga yang merupakan warga desa sekitar mengharapkan ada uluran tangan dari pemerintah maupun dermawan yang sudi ingin membantu kondisi rumah Mak Emuk yang kondisinya tak layak huni.

“Saya harap pemerintah maupun dermawan mau membantu Mak Emuk, kasian rumahnya tak layak huni dan hanya sebatang kara tinggalnya,” harapnya.

Mendengar cerita dari warga sekitar, wartawan pun mencoba mengunjungi gubuk yang dihuni oleh Nenek Muklinah. di gubuk berukuran sekitar 2,5 X 4 meter ini Mak Emuk tinggal dan hanya berlantaikan tanah padat sebagian dan bale-bale.

Mak Emuk menceritakan kondisi rumahnya yang tak layak huni tersebut, kata Mak Emuk menceritakan dengan bahasa Sunda, saat musim hujan, atapnya sudah pada bolong dan bocor, dan tak hanya itu, dia juga menuturkan bahwa saat hujan segala jenis binatang melata merayap ke dalam gubuknya yang tanpa adanya penerangan.

“Mak cicing digubuk ieu sieun mun usim hujan, hatepna tos balocor ja ku barolong, haju teu aya lampu deui anu caang (Mak tinggal ditempat ini takut saat musim hujan, atapnya bocor karena sudah pada bolong, dan tidak ada lampu penerang),” papar Nenek Muklinah dengan raut sedihnya, menggunakan bahasa Sunda.

Selain itu Nenek Muklinah pun berharap agar mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun relawan yang ini membantu rumah gubuknya tersebut.

“Mak ngeun ngaharepkeun bantosana, tos 20 tahun cicing di gubuk jeung sa aya-ayana bae (Mak hanya berharap ada yang bantu, karena sudah 20 tahun tinggal di rumah ini dengan seadanya),” tutupnya. (dewi/be)