Jelang Visit Solok 2020, Pemko Solok Gelar Bimtek

21 views

SpiritNews.Co, Solok | Guna menyukseskan dan mempersiapkan Visit Solok 2020, Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kota Solok mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) demi menunjang peningkatan kompetensi jurnalistik bagi wartawan yang bertugas di Kota Solok.

Bimtek tersebut merupakan salah satu program yang dirancang sebagai bentuk kemitraan antara Pemko dan Insan Pers.

Bimtek dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota (Wawako) Solok Reinier, bertempat di Aula Mami Hotel, Rabu, 14 Maret 2018.

Diikuti oleh seluruh wartawan baik dari media cetak, elektronik dan online yang bertugas di Kota Solok. Turut dihadiri wartawan senior yakni Heranof Firdaus dan Yurnaldi sebagai narasumber dalam Bimtek, kemudian Asisten III Yul Abrar, Kabag Humas dan Protokol Nurzal Gustim, Kasubag Pemberitaan dan Dokumentasi Livka Ores, serta seluruh staf humas bagian pemberitaan.

Nurzal mengatakan, dengan diadakan bimtek ini diharapkan dapat menjaga serta menjalin hubungan kemitraan yang profesional, dan meningkatkan kompetensi para wartawan.

“Kegiatan ini dirancang sebagai salah satu program untuk menghadapi Visit Kota Solok 2020, sehingga Humas dan Pers menjadi lebih siap menyambutnya, serta turut mensukseskan sesuai dengan harapan kita semua,” kata Nurzal.

Bimtek tersebut diadakan selama dua hari (14-15) Maret 2018. Dengan materi yakni profesionalisme wartawan dalam dunia, hubungan pers dan pemerintah yang dibawakan oleh Heranof.

Sementara Yurnaldi membawakan tema bimtek yaitu Jurnalis berbasis data dan analisa berita, serta trik feature dan tajuk esai serta peliputan mendalam.

Sejumlah isu dibahas oleh para narasumber dengan suasana berdiskusi yang santai. Isu-isu seperti kemajuan teknologi dimana Jurnalis harus mampu menghadapi, fenomena oknum-oknum wartawan yang bertingkah tidak sesuai kode etik jurnalistik, mengembalikan dan menjaga kehormatan profesi wartawan, serta trik khusus dalam memerangi hoax yang akhir-akhir ini booming sebagai dampak negatif dari pesatnya kemajuan teknologi informasi.

Heranof mengatakan, apapun medianya itu tergantung pada wartawan, jika di Medsos meskipun disebut juga sebagai media, namun tanpa redaksional, sehingga sangat mudahnya informasi yang belum tersaring dan belum makanan publik, tersebar dengan cepat. Sehingga bermunculan respon yang berbeda-beda dikalangan masyarakat, dan munculah hoax ditiap sudut Medsos.

Oleh sebab itu media yang memiliki redaksional, jika dikelola oleh orang-orang yang berkompeten dengan wartawan yang memahami kode etik, serta jiwa profesi yang melekat, maka itulah cara untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi informasi kini.

Di sisi lain sekaligus memerangi hoax dengan tersedianya berita-berita yang valid di media-media yang telah diverifikasi oleh Dewan Pers, serta menjaga kehormatan profesi wartawan dengan tingkah laku serta karya tulis yang bisa dipertanggung jawabkan asal-usulnya.

Sementara itu, Wawako Reinier mengatakan, pers merupakan suatu wahana untuk menyebarkan/menyiarkan informasi yang benar ditengah masyarakat. Pemerintah dan pers saling bergantung satu sama lain, dalam menangkal informasi-informasi bohong yang dapat merusak citra pemerintah dan pers itu sendiri.

“Mustahil rasanya jika pers bisa hidup dan berkembang tanpa adanya pemerintahan dan masyarakat, terkadang diantara itu muncul hal hal yang merugikan masyarakat ketika saling bersentuhan dan bergesekan diantaranya, sehingga disitulah peran pers sebagai salah satu pilar, untuk menegakan kebenaran dan segala sesuatu yang merugikan masyarakat dalam keberlangsungan kehidupan bernegara ini dapat berjalan lancar, oleh sebab itu kita semua butuh satu sama lain,” kata Reinier.

Dijelaskan Reinier pers merupakan pilar penting dalam berdemokrasi, yang memiliki kedudukan yang mulia. Dalam perjalananya negara Indonesia membutuhkan pers yang berkualitas dalam menjalankan fungsinya, menopang kehidupan berdemokrasi.

“Tanpa pers maka kehidupan ini akan seperti di hutan rimba, tanpa kekuatan, dalam hal ini pers menjadi jembatan yang menghubungkan kepentingan masyarakat dan pemerintah. Sederhana saja, kita semua butuh pers yang menjadikan yang benar itu adalah benar dan yang salah adalah salah, kita semua butuh pers karena tanpa pers hoax bertebaran dimana-mana. Kita ingin profesi yang mulia ini sebagai sebuah dunia untuk mencari kejujuran, kebaikan, berani berkata benar dan tidak bertele-tele, mari kita jadikan pers adalah tempat bagi masyarakat untuk mencari dan menemukan kebenaran, fakta, data, yang jujur, netral dan tidak ada kepentingan-kepentingan kelompok tertentu,” kata Reinier.

Diharapakan Reinier, pers dan pemerintah semakin mengenal baik fungsi masing – masing yang profesional, dengan adanya bimtek.

“Jangan segan-segan bertanya kepada narasumber, mari kita semua bersungguh-sungguh menjadikan dunia pers yang lebih baik,” kata Reinier. (eyn)