Ini Kisah Polisi Bantu Persalinan Ibu ODGJ di Blitar

17 views

Kisah heroik dua anggota polisi di Blitar yang membantu persalinan wanita dengan gangguan jiwa.

SpiritNews.Co, Blitar | Minggu dini hari, 1 April 2018, dua anggota Polsek Lodoyo Blitar samar-samar mendengar suara wanita yang mengerang kesakitan saat berpatroli di sekitar Hutan Kembangan Kelurahan Kembangarum Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar.

Bripka Gaguk Sugiarto dan Bripka Tri Suyoko kemudian turun dan mencari sumber suara. Lampu senter mereka pun tertuju pada seorang wanita yang berusaha melahirkan bayinya.

“Begitu melihat itu, kami angkat dia ke bak mobil. Karena bayinya sudah kelihatan, mau tidak mau harus melahirkan sekarang juga,” katanya seperti dilansir dari detikcom.

Kondisi ibu yang akan melahirkan itu pun tidak menyurutkan tekad kedua anggota kepolisian ini untuk membantu persalinannya. Sang ibu diketahui seorang ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa). Hal ini dipastikan dari pakaiannya yang kumal.

“Iya, namanya Sri tapi alamatnya belum diketahui,” tambahnya.

Belakangan dari keterangan petugas puskesmas diketahui bahwa wanita ini memang ODGJ dan sering terlihat berkeliaran di sekitar hutan. Namanya Sri Wahyuni (35).

Gaguk dan Tri kemudian berbagi tugas. Gaguk menemani sang ibu, sedangkan Tri menghubungi Puskesmas Sutojayan yang berjarak sekitar 7 km dari lokasi ditemukannya Sri.

Namun karena petugas puskesmas tak kunjung datang, Gaguk akhirnya turun tangan membantu proses persalinan di atas back bone. Meski tanpa berbekal keterampilan, Gaguk mengaku pernah menyaksikan istrinya melahirkan sehingga ia pun berani membantu proses ini.

Bayi lahir dengan selamat sekitar pukul 01.30 WIB dan berjenis kelamin laki-laki. Gaguk sempat heran karena bayi itu tidak menangis dan wajahnya membiru. Ternyata lehernya terlilit tali pusar.

“Akhirnya saya minta bantuan warga ikut megangin tali pusarnya. Saya urai lilitan di leher, lalu saya potong bagian tengahnya memakai gunting milik warga sekitar,” cerita Gaguk.

Untungnya jarak antara hutan dengan pemukiman warga hanya sekitar 1 km. Warga juga membantu memindahkan tubuh ibu dan jabang bayi itu ke lincak (kursi bambu) di depan sebuah warung yang belum tutup.

“Saya butuh penerangan cukup, setelah kami pindah kesitu, baru saya urai lalu saya lepaskan lilitan tali pusar di leher bayi. Begitu lilitan terlepas, bayinya langsung menangis keras. Lega saya rasanya,” ungkapnya.

Tak lupa, dia mengadzani telinga kanan dan kiri sang bayi. Sebelum akhirnya, bayi laki-laki itu dievakuasi menuju Puskesmas Sutojayan.

Usai persalinan, Tri juga belum kunjung datang sementara warga tak satupun yang berani memegang kemudi mobil patroli.

“Akhirnya saya minta kain warga buat bungkus bayi. Saya minta diantar naik sepeda motor menuju puskesmas. Jabang bayi saya dekat di dalam jaket saya. Kepalanya saya tutup memakai ujung kain dan saya pegangin biar tidak kedinginan,” jelasnya.

Setibanya Tri, ia lantas mengurus dan mengantar si ibu yang kondisinya lemas dengan mobil patroli ke Puskesmas Sutojayan.

Sesampainya di puskesmas, Gaguk sempat mengutarakan niatnya untuk mengadopsi si bayi. Niat itu timbul setelah tahu kondisi ibu bayi yang melahirkan tanpa suami dan seolah ditelantarkan keluarganya.

“Sejak gendong bayi itu ke puskesmas, saya sudah berniat merawatnya. Apalagi kondisi ibunya seperti itu. Daripada dirawat di panti asuhan atau dinas sosial lebih baik saya rawat sendiri,” ungkapnya.

Sayangnya niat Bripka Gaguk tak bisa terlaksana lantaran bayi laki-laki yang ditolongnya itu dibawa pulang keluarganya yang merupakan warga Dusun Tritihrejo, Desa Tumpang, Kecamatan Talun itu.

Kepada polisi, keluarga Sri menceritakan jika wanita ini pernah mengalami hal serupa. Yang pertama terjadi di Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar dan anak yang pertama pun dibawa pulang oleh keluarganya. (dtc/red)