BPOM Temukan 7 Produk Ikan Makarel Bercacing di Surabaya

23 views

Cacing yang ditemukan pada produk makarel kemasan.

SpiritNews.Co, Surabaya | Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya menemukan tujuh dari 27 produk kemasan ikan makarel mengandung cacing parasit. Tujuh produk kemasan yang disita ini berasal dari Surabaya.

“Produk itu diserahkan ke BPOM setelah pihaknya melakukan sampling baik di pasar modern maupun tradisional di daerah Surabaya, Jombang, dan Mojokerto,” kata Ketua BBPOM Surabaya Drs Sapari di Surabaya, Kamis, 29 Maret 2018.

Tujuh produk tersebut tersebar di beberapa pasar Surabaya. Kesemuanya yakni yang produksi lokal, juga impor.

“Yang lokal ini produksi Banyuwangi, kalau impor dari Korea Selatan,” kata Sapari seperti dilansir dari detikcom.

Sapari mengatakan, adanya cacing menunjukkan indikasi jika makanan tidak memenuhi syarat higienis. Meski sudah mengalami proses pemasakan dan sterilisasi, produk tersebut tidak layak konsumsi.

“Ada merek A disampling kota B mungkin tidak ada cacingnya. Tapi kalau yang ada cacingnya dilihat kode produksinya, nanti yang sama kode produksinya biasanya juga ada cacingnya,” tambahnya.

Sementara ketika ditinjau dari bahan baku ikan makarel, kata Sapari, memang rawan dihinggapi parasit cacing. Termasuk tujuh produk hasil sampling BBPOM Surabaya yang positif terdapat parasit cacing.

BPOM mengumumkan puluhan merek produk yang mengandung cacing adalah ABC, ABT, Ayam Brand, Botan, CIP, Dongwon, Dr. Fish, Farmerjack, Fiesta Seafood, Gaga, Hoki, Hosen, IO, Jojo, King’s Fisher, LSC, Maya, Nago/Nagos. Tak hanya itu, ada pula Naraya, Pesca, Poh Sung, Pronas, Ranesa, S&W, Sempio, TLC, dan TSC.

Sementara untuk daftar rinci varian produk makanan bercacing dapat dilihat situs resmi BPOM.

Selain itu, satu merek kemasan ikan makarel bisa mengandung hingga tiga jenis parasit cacing. Misalnya saja merek ABC dengan jenis Ikan Makarel Saus Tomat, Ikan Makarel Saus Ekstra Pedas, Ikan Makarel Saus Cabai. Bahkan ada yang dalam satu merek terdapat empat jenis pangan yang dibedakan dari izin edarnya. Seperti merek Botan dan Maya.

“Kami meminta kerja sama dari distributor untuk menarik dari peredaran. Produk ini merata ada di semua daerah di seluruh Indonesia,” ujar Sapari.

Dengan temuan ini, dia mengimbau masyarakat di Jawa timur lebih cerdas dalam memilah dan memilih obat serta makanan yang akan dikonsumsi. (dtc/red)